Cerita Seks Nikmat Nya Tubuh Tante Wayan

Cerita Seks Nikmat Nya Tubuh Tante Wayan

Diposting pada

Cerita Seks Nikmat Nya Tubuh Tante Wayan- Aku ditugaskan perusahaan untuk memimpin proyek di Kalimantan Timur tepatnya di Handil II dekat kota Balikpapan. Bersamaku ikut sebagai team yaitu Harjo sebagai supervisorku dan Katiman sebagai driver proyek. Sebagai Base camp kami menyewa rumah dari Haji Abdulah yang juga mempunyai toko material di pasar Handil II.

Cerita Seks Nikmat Nya Tubuh Tante Wayan

Cerita Seks Nikmat Nya Tubuh Tante Wayan

Cerita Seks Tante Wayan_ Untuk pekerja kami memakai tenaga lokal antara lain bu Fatimah yang membantu mengurus base camp. Bu Fatimah adalah seorang ibu beranak tiga yaitu Reni yang berusia 17 tahun , Rina berusia 15 tahun , Roni berusia 2 tahun. Reni sudah tidak bersekolah karena tidak ada biaya sedang Rina kelas 3 SMP. Bu Fatimah dulunya seorang ibu rumah tangga biasa yang berkecukupan sehingga dirinya cukup terawat dan cantik. Kasihan dia sekarang harus menjadi orang tua tunggal karena suaminya seorang kapten kapal harus kabur tidak tahu rimbanya karena terkena kasus penyelundupan 1 tahun yang lalu Pekerjaan disana memakan waktu cukup lama sehingga kami cukup bosan dengan suasana desa yang sepi dimana penerangan didapat dari genset sehingga sebagai penghiburan yaitu memasang video. Harjo dari sebulan yang lalu mengontrak cewek. Cewek tersebut dikenalkan oleh ibu Fatimah. Suatu siang aku perlu kembali ke Base Camp untuk mengambil berkas yang tertinggal aku menjumpai bu Fatimah keluar dari kamar mandi hanya ditutupi handuk saja. Kulihat badannya yang montok dan masih mulus tersebut Dia agak tersipu tapi tetap tenang masuk kekamar untuk berganti pakaian seakan dia mau memamerkan keelokan tubuhnya.

Seminggu kemudian aku masuk angin dan nggak bisa pekerja, aku minta tolong dipanggilkan tukang pijit untuk mengerok dan memijitku. Tetapi tukang pijitnya berhalangan Bu Fatimah menawarkan untuk memijitku, karena tidak ada pilihan apa boleh buat tetapi aku menduga pasti Bu Fatimah mempunyai maksud lain. Betul juga Bu Fatimah menyuruh Reni dan Roni pergi keluar, setelah itu dia mengajakku masuk kekamarku dan mengunci pintunya. Aku pura-pura tidak tahu apa yang akan terjadi malah kusengaja Cuma baju saja yang kucopot. Tetapi bu Fatimah menganjurkan telanjang saja karena takut bajuku kena minyak alasan yang sangat tepat. Dia sendiripun mencopot bajunya tinggal BH dan CD saja. Selama memijat dia curhat ke padaku bahwa berat hidupnya tanpa suami yang tidak bisa memberi nafkah. Aku mendengarkan saja keluhan-keluhan itu. Bu Fatimah minta ijin naik kebadanku untuk memudahkan memijitku. Sambil memijit kakinya digosok-gosokan kekakiku untuk merangsangku. Aku pun tidak mau kalah kugosok-gosok juga pahanya. Bu Fatimah mulai terangsang matanya mulai sendu dan Cdnya mulai lengket. Akhirnya Bu Fatimah tidak sabar melihat tingkahku yang cuek, badan ku dibaliknya langsung dibukanya BH sambil memelukku lalu dengan memelas dia memintaku untuk menyetubuhinya. Aku pura-pura jual mahal aku tidak mau hanya mendapatkan tubuhnya saja tetapi aku amau juga Reni dan Rina. Akhirnya dengan berat hati disetujui juga permintaanku itu.
Terlihat kerinduan dan hasrat yang bergelora dimata Bu Fatimah . Dan bibirnya yang merah merekah basah mengundang untuk di kecup. Tanpa menunggu lagi bibirku segera melumat bibir bu Fatimah yang sudah merekah pasrah itu.
Aku semakin yakin bahwa perempuan ini haus akan sentuhan lelaki ketika dirasakan ciumannya dibalas dengan penuh nafsu oleh Bu Fatimah. Bahkan terkesan perempuan itu lebih berinisiatif dan agresif. Tangan Bu Fatimah memegang belakang kepalaku menekannya agar ciuman mereka itu semakin lekat melumat.
Aku mengimbangi ciuman itu dengan penuh gairah sambil mencoba merangsang perempuan itu lebih jauh, tangannya mulai merabai tubuh hangat bu Fatimah. kurabapaha mulus, kuusap perlahan mulai dari lutut yang halus lembut terus keatas sampai ke pangkal paha. Bu Fatimah bergetar ketika jemariku menyentuh semakin dekat daerah pangkal pahanya. Tanganku memang mulai merambah seputar selangkangannya. Dengan ujung jarinya kuusap-usap selangkangan itu yang makin terbuka karena bu Fatimah telah merenggangkan kedua pahanya.
.
Bu Fatimah makin mendesah ketika jemariku mulai menyentuh bibir memeknya. Itulah sentuhan mesra pertama dari jemari lelaki yang pernah bu Fatimah rasakan pada daerah kemaluannya. Suaminya tidak pernah mau melakukan hal itu. Dalam bercinta suaminya tidak pernah melakukan pemanasan atau rabaan yang cukup untuk merangsangnya. Biasanya hanya mencium dan meraba buah dadanya sekilas dan ketika batang kontolnya sudah tegang langsung dimasukan ke lubang memek Bu Fatimah. Bahkan ketika lubang memek itu masih kering, sehingga rasa sakitlah yang dirasakan Bu Fatimah
Dan kini ketika jemari lelaki yang dengan penuh perasaan merabai daerah sensitifnya, semakin berkobarlah nafsu ditubuh bu Fatimah. Seakan haus yang selama ini ada telah menemukan air yang dingin segar.
“Ah..setubuhi aku kak..” desahnya makin membara. Segera kubalikkan badannya
dan mengatur posisi. Bu Fatimah celentang pasrah dengan kedua paha terbuka lebar menantikan hujaman batang kontolku pada lubang memeknya yang telah semakin berdenyut.
Bu Fatimah tersentak buruknya ketika terasa benda hangat menyentuh bibir memeknya. Direngkuhnya tubuhku ketika perlahan batang ****** yang keras itu mulai menyusuri lubang memeknya.
“Akh…! enak kak!” desisnya. Tangannya menekan pinggulku agar batang ****** ku itu masuk seluruhnya. Aku juga merasakan nikmat. Memek bu Fatimah masih terasa sempit dan seret.
Aku mulai menggerakkan pinggulnya perlahan naik-turun dan terus dipercepat diimbangi gerakan pinggul Bu Fatimah. Kami terus berpacu menggapai nikmat.
“Ayo kak geyol terusss!” desis bu Fatimah makin hilang kendali merasakan nikmat yang baru kali ini dirasakan. Aku mengerakkan pinggulnya semakin cepat dan keras. Sesekali disentakkan kedepan sehingga batang kontolnya tuntas masuk seluruhnya kedalam memek bu Fatimah.
“Oh..kak !”jerit Bu Fatimah nikmat setiap kali Aku melakukannya.
Terasa batang ****** itu menyodok dasar lubang memeknya yang terdalam. Semakin sering Aku melakukannya, semakin bertambah nikmat yang dirasakan bu Fatimah sehingga pada hentakan yang sekian bu Fatimah merasakan otot diseluruh tubuhnya meregang.
Dengan tangannya ditekan pantatku agar hujaman bantang ****** itu semakin dalam. Dan terasa ada yang berdenyut-denyut didalam lubang memeknya.
“Ahk..! Ah…duh akhh!” teriaknya tertahan merasakan orgasme yang untuk pertama kali saat bersanggama dengan lelaki. Sangat nikmat dirasakan bu Fatimah. Seluruh tubuhnya terasa dialiri listrik berkekuatan rendah yang membuatnya berdesir.
Aku yang belum keluar terus menggerakkan pinggulnya semakin cepat. Menyebabkan bu Fatimah kembali berusaha mengimbangi. Diangkat kedua kakinya keatas dan dipegang dengan kedua tangannya, sehingga pinggulnya sedikit terangkat sehingga memeknya semakin menjengkit. Menyebabkan hujaman kontolku semakin dalam.
Aku yang berusaha mencapai kenikmatannya, merasa lebih nikmat dengan posisi bu Fatimah seperti itu. Demikian juga dengan bu Fatimah, perlahan kenikmatan puncak yang belum turun benar naik lagi.
Bu Fatimah mengangkat dan menumpangkan kakinya dipundakku, sehingga selangkangannya lebih terangkat.
Aku memeluk kedua kaki Bu Fatimah, sehingga tubuhnya setengah berdiri. Dirasakan jepitan memek Bu Fatimah lebih terasa sehingga gesekan batang kontolnya menjadi semakin nikmat. Aku semakin menghentakkan pinggulnya ketika dirasakan kenikmatan puncak sudah semakin dekat dirasakan.
“Ahhh…” Aku mendesah nikmat ketika dari batang kontolnya menyembur cairan kenikmatannya. Dikocoknya terus batang ****** itu untuk menuntaskan hasratnya.
Bersamaan dengan itu Bu Fatimah rupanya juga merasakan kenikmatan yang kedua kalinya.
“Akhh…!!” jeritnya untuk kedua kali merasakan orgasme berturut-turut.
Tubuhku ambruk diatas tubuh Bu Fatimah. Keduanya saling berdekapan. Kemaluan mereka masih bertaut. Keringat mengucur dari tubuh keduanya, bersatu. Nafas saling memburu.
“Terima kasi kak” kata Bu Fatimah terbata mengucapkan terima kasih diantara nafasnya yang memburu. Tuntas sudah hasratnya. Dua tubuh yang panas berkeringat terus berdekapan
Tanpa disadari ada sepasang mata yang mengintip kejadian itu

Suara yang terdengar sewaktu aku bersetubuh dengan bu Fatimah akhirnya kuketahui berasal dari Haji Abdulah yang mengintip ku pada saat asyik bermain cinta. Aku membisikkan pada bu Fatimah agar mengulangi lagi permainan kami dengan gaya yang lebih seru. Bu Fatimah sangat setuju dengan usulku sehingga kami berdua bersetubuh dengan berbagai gaya. Kudengar diluarpun suara bertambah berisik sehingga pak Haji Abdulah sangat terangsang dengan tindakan kami, tetapi kami pura-pura tidak tahu.

Keesokan harinya seperti biasanya pada hari Minggu atau hari minggu aku menonton video dirumah pak haji Abdulah. Hari itu cuma kami berdua yang menonton film BF karena bu Siti Fathiya kepasar menjaga toko. Aku pura-pura tidak tahu mengenai Haji Abdulah mengintip permainanku. Suatu saat pak Haji meminta apakah dia boleh menyetubuhi bu Fatimah dan ditukar dengan istrinya. Aku tidak keberatan asal istrinya setuju. Cepat-cepat dia kepasar untuk menutup tokonya dan mengajak istrinya pulang agar ku setubuhi. Tidak lama Pak Haji Abdulah pulang dengan istrinya. Muka istrinya muram kayaknya habis bertengkar hebat.. Kemudian kami bertiga bertemu diruang tamu dan kami bertiga setuju untuk tukar istri. Bahkan dengan rasa kesal bu Siti Fathiya mengusulkan untuk selamanya bertukar istri bukan seminggu seperti yang diusulkan pak Haji. Setelah setuju pak Haji segera pindah kerumah sebelah dan aku tetap dirumahnya.

Aku juga heran kenapa bu hajjah Siti Fathiya cepat menyetujui usulan itu. Akhirnya aku tahu bahwa mereka sudah lama tidak berhubungan sex karena pak haji nafsu besar tenaga kurang dan juga mata keranjang dan sering terpergok istrinya memacari janda-janda. Mereka rupanya dijodohkan oleh orang tuanya dan umur mereka juga cukup jauh..
Bu Tia panggilan bu hajjah minta ijin kepadaku untuk berberes rumah kukatakan silahkan saja karena waktu juga sangat panjang. Bu Tia sangat senang dengan tingkahku yang tidak terburu-buru dan sangat perhatian. Baru kuperhatikan bodi Bu Tia dari belakang tingginya 175 cm putih bersih dan langsing dengan wajah cantik serupa orang Arab kulihat pantatnya bahenol , buah dadanya cukup besar. Tubuhnya terbungkus baju muslim dan dilengkapi kerudung. Aku terus melanjutkan menonton BF sementara Bu Tia memasak serta membereskan kamar tidurnya Seprai ranjang diganti dengan sprai baru warna putih dan disemprot wangi-wangian serta diranjang ditebarin bunga melati. Setelah selesai semua dia mandi dan berganti pakaian dengan daster cukup tipis sehingga makin nyata lekuk-lekuk tubuhnya , kerudungnya telah dibuka dan terlihatlah rambutnya yang tebal dan panjang basah sehabis keramas. Bu Tia duduk disampingku sambil menyenderkan badannya kebadanku. Lalu kupeluk dia sambil menonton bareng film BF.samar-samar badannya berbau harum melati. Kakinya dinaikkan diatas sofa hingga dasternya naik keatas pahanya. Kulihat betisnya sangat bagus dan terawat telapak kakinya putih kemerah-merahan selain halus juga mulus sekali. Kami berbincang-bincang bahwa aku untung sekali dapat memilikinya dan ditukar dengan bu Fatimah yang jelas kalah dia pun mengatakan hal yang sama. Dia mengatakan bahwa paling pak haji juga 5 menit sudah KO. Aku menayakan apakah dia tertarik dengan film yang ditonton dan apakah mau mempraktekkannya serta berapa kali dia mau kusetubuhi hari itu. Jawabnya terserah karena dia sepenuhnya milikku.

Setelah Film selesai bu Tia mengajakku makan, aku diperlakukan seperti benar-benar seorang suami aku disuapin dengan mesra. Setelah makan selesai aku disuruh menunggu diruang tamu sedang bu Tia-beres-beres di dapur, iseng-iseng aku melihat kesebelah pak Haji keluar rumah tak tahu kemana sedang bu Fatimah keluar juga rupanya mereka sudah selesai bertempur. Aku memberi tahu hal ini ke Bu Tia dia tersenyum manis.

Setelah selesai memberskan rumah Bu Tia memanggilku masuk kamar dan mengunci pintunya. Dia berbisik bahwa sekarang dirinya milikku terserah mau diapakan dirinya.
Kujawab akan kupuaskan dirinya dia Cuma memejamkan matanya sambil mulutnya tersenyum. Pelan-pelan kurangkul tubuhnya dan kucium pipinya yang terasa basah oleh air matanya.

Bu Tia mendongakkan kepalanya memandangku dengan senyuman sayang. Hidung mancungnya dekat sekali dengan hidungku. Kami berdua bisa menghirup wangi nafas masing-masing. Mata kami saling beradu pandang. Oh, alangkah indahnya matamu bu Tia.. alangkah cantiknya wajahmu..

Aku menempelkan bibirku di atas bibir Bu Tia Perempuan itu tanpa ragu menyambut ciuman lembutku. Ciuman ini terasa berbeda dari ciuman-ciuman sebelumnya yang pernah kulakukan pada perempuan lain. Ciuman kali ini lebih merupakan pernyataan kasih sayang dibanding sekedar nafsu.

Entah siapa yang memulai tahu-tahu bibir kami sudah saling memagut. Lidah Bu Tia mencoba menerobos masuk ke mulutku. Beberapa kali lidahnya bertumbukan dengan lidahku yang juga berupaya untuk menjelajahi lorong mulutnya. “Emmh.. mmh..” Perempuan itu mengerang ketika lidahku berhasil melesak masuk mulutnya dan dengan cepat mulai menjelajahi langit-langitnya. Kedua tanganku kini memegang pipinya sehingga aku dapat mengontrol pagutan bibir dan lidahku. Lalu Bu Tia mencengkram tangan kiriku dan membimbingnya ke bawah melalui leher, pundak, terus ke dadanya yang busung. Aku mulai tak percaya dengan respon isteri pak Haji itu. Bu Tia tanpa malu-malu membawa tanganku ke dadanya. Kuselipkan tanganku ke balik dasternya sehingga terpegang bukit daging yang masih dilapisi oleh beha. Tak kusangka buah dadanya lebih besar dari yang kuperkirakan. Lalu, kuselipkan telapak tanganku ke balik behanya yang elastis itu sehingga dengan mudah kukeluarkan buah dada kanan Bu Tia dari cup behanya. “Emmh..” perempuan itu menggelinjang ketika dengan gemas kuremas-remas buah dada montok berwarna putih itu. Remasanku membuat bentuk daging kenyal itu berubah-ubah dari bundar ke lonjong, bundar-lonjong, bundar-lonjong. Lalu, jempol dan telunjukku mulai memilin-milin puting berwarna coklat tua itu. “Yang keras kak.. yang kerass.. Ahh..” Bu Tia mendesah seraya menyodorkan dadanya sehingga telapak tanganku semakin dipenuhi oleh gumpalan bukit kenyalnya. Dan tubuhnya semakin menggelinjang ketika kuciumi jenjang lehernya yang putih mulus bagai pualam. Desahannya nyaris menjadi jeritan ketika puting yang telah berubah menjadi keras dan panjang itu kupijit dan kutarik. “aahh.. gila, tarik lagi Kak.. tarik lagiih.. yang keraass.. euuhh.”

Bu Tia menghentikan pagutannya di bibirku. Ia menjauhkan tanganku dari buah dadanya, lalu berdiri. Seraya tersenyum dan memandang mataku dengan pandangan penuh birahi, perempuan itu membuka kancing dasternya satu per satu. Lalu ia membuka dasternya, menggerakkan pundak, dan seketika itu juga daster pink itu jatuh ke lantai melingkari telapak kakinya. Jantungku makin berdegup kencang melihat tubuh mulus isteri pak Haji yang berdiri setengah telanjang di hadapanku. Maka, tubuh sintal itu kini hanya dibalut beha dan celana dalam saja. Mataku tekejap-kejap tak percaya melihat pemandangan di hadapanku. Bu Tia mengenakan beha berbentuk bikini yang hanya menutupi sebagian kecil ujung buah dadanya. Tali pundak dan punggungnya tampak tak lebih dari seutas tali kecil. Celana dalamnya yang berwarna putih juga berbentuk bikini pantai yang hanya menutupi daerah selangkangan dan pantat yang dihubungkan oleh seutas tali melintasi pinggul kiri dan kanannya. Di bagian selangkangan, gumpalan bulu keriting nampak menerawang di balik celana dalam tipis dari bahan nilon itu. Wow.. tak pernah kubayangkan di balik kain daster isteri pak Haji ini tersembunyi beha dan celana dalam yang desainnya sangat merangsang!!
“Kamu suka modelnya Kak?” Bu Tia tersenyum memandang wajahku yang melongo terpesona. Kedua ibu jarinya mengait pada tali BH di depan dada. Pelan-pelan jempolnya menarik tali itu sehingga penutup buah dadanya bergeser ke atas. “Su.. suka sekali yang..” Aku menahan nafas melihat puting coklatnya sedikit demi sedikit terlihat. Tanganku dengan cepat membuka T-Shirt ku. Lalu, kuturunkan ritsluiting celana jeans-ku dan meloloskannya melalui kedua kaki. Tubuh atletisku kini hanya dibalut celana Calvin Klein merah tua. Dan celana itu tak mampu menutupi bola besarku yang diselimuti bulu-bulu keriting yang lebat. Batang penisku yang sudah tegak itu tampak menonjol di celana berbahan elastis itu. Mata Bu Tia berkejap-kejap memandangi bongkahan daging di selangkanganku itu. Lalu dengan gerakan cepat, Bu Tia menyentakkan tali behanya sehingga kedua buah melon montok itu melejit keluar dari cup-nya dan bergayut menantang untuk dijamah.

Aku menubruk tubuh sintal telanjang yang cuma ditutupi celana dalam tipis itu. Tanganku memeluk erat pinggangnya dan Bu Tia menyambut dengan pelukan yang tak kalah erat di leherku. Dadaku terasa sesak digencet oleh kedua buah dadanya yang montok. Lalu sambil berdiri, kami saling memagut, menggigit, dan menjilat dengan buas. Jemari lentik perempuan itu membelai-belai rambut belakangku dan meremas punggungku. Tanganku bergerak ke bawah menelusuri punggungnya yang putih bak pualam itu sebelum menyelinap masuk ke dalam celana dalam nilonnya. Lalu dengan penuh nafsu kuremas dengan keras kedua buah pantatnya. “Emmhh..” Bu Tia mengerang keras sambil terus menyedot lidahku. Selama beberapa saat pantat bulat Bu Tia habis kuremas-remas membuat perempuan itu menggeliat-geliat keras sehingga buah dadanya menggesek-gesek dan menggencet dadaku.

Bu Tia mulai menggelat-geliat liar! Bu Tia melepaskan pelukannya dari leherku, lalu menempelkannya di dada bidangku.

“”Hmm” Bi Bu Tia tersenyum nakal sambil menurunkan kedua tangannya ke arah perutku. “Geli mana dengan ini kak?” Dengan cepat perempuan itu memasukkan tangannya ke celana dalamku dan, “Oaahh”, dalam sekejap penisku sudah berada dalam genggamannya.

Aku merasakan kecanggungan Bi Bu Tia ketika menggenggam penisku. Seakan-akan tengah menimbang-nimbang “Mau diapakan benda ini?” “Dikocok dong Bu..” bisikku memohon. Seketika itu juga tangan Bu Tia mulai bergerak-gerak di dalam celana dalamku. “Iya bu.. iyaahh.. lebih cepat bu.. lebih cepaat.” Tampaknya untuk soal kocok mengocok, Bu Tia lumayan berpengalaman. Ia juga tahu tempat sensitif pria di urat sebelah bawah kepala penis. Seraya mengocok naik-turun, jempolnya mempermainkan urat itu membuat mataku terbeliak dan pinggulku berputar-putar. “Enak bu. aahh.. ennaak..” Lalu tanganku melepaskan remasan di pantatnya, dan kusentakkan tali celana dalam nilonnya. Maka terlepaslah penutup terakhir tubuh sintal isteri pak Haji itu. Dengan sigap kuletakkan jari tengahku di vagina Bu Tia. Kusibakkan hutan lebat keriting itu, lalu jariku mencari-cari tonjolan kecil di bagian atas vaginanya.”aahh.. ss.. aahh.. agak keatas kak.. agak keatas.. iyaah.. Yang ituu.. yang ituu.. ouuh..” Kembali tangan kanan Bu Tia memeluk leherku, sementara tangan kirinya semakin cepat mengocok penisku.

Putaran pinggul Bu Tia semakin liar mengikuti kocokanku pada klitorisnya. Erangan dan desahannya sudah menjadi teriakan-teriakan kecil. Ia sudah tak peduli kalau orang lain akan mendengar. Dengan satu tangan yang masih bebas, kulepaskan celana dalam CK-ku sehingga Bu Tia semakin bebas mengocok penisku. “kak.. kita berdua telanjang bulat . Desahnya sambil memejamkan mata dan tersenyum manja. Lalu kuhentikan kocokanku, dan kuletakkan ujung jari tengah dan telunjuk di pintu vaginanya. Pelan-pelan kudesakkan kedua jariku ke dalam liang yang sudah teramat basah itu.
“Eeehh..” Isteri pak Haji mengerang lalu menggigit pundakku dengan gemas, kerika kuputar-putar jemariku seraya mendesakkannya lebih kedalam. Lalu mendadak kuhentikan gerak jemariku itu dan berkata,
“Ibu yakin mau melakukan ini?”
“Ohh ke.. kenapa kamu tanya itu yang..? ss..” tanyanya dengan pandangan sayu seraya mendesis dan menyorong-nyorongkan selangkangannya dengan harapan jemariku melesak semakin dalam.
“Adalah kesalahan besar kalau aku menolak penismu yang.. aahh..” Kutusukkan kedua jariku sehingga melesak masuk ke dalam vagina basah itu sehingga pemiliknya menjerit walau belum habis berkata-kata. Mata Bu Tia membelalak, mulutnya menganga seakan sedang mengalami keterkejutan yang amat sangat. Rasakan!

Pelan-pelan kugerakkan jemariku keluar masuk vagina Bi Bu Tia. Gerakan itu semakin lama semakin cepat. Dan ruangan itu kembali dipenuhi oleh jeritan-jeritan Bu Tia yang semakin menggila bercampur dengan kecipak vaginanya yang sudah banjir tak keruan. Sambil terus menusuk-nusukkan jemariku di selangkangannya, pelan-pelan kubaringkan tubuh isteri pak Haji itu di atas ranjang. Bu Tia merebahkan tubuhnya seraya membuka selangkangannya. Tusukan dan putaran jemari di vagina perempuan itu semakin kupercepat. Pinggulnya kini bergerak naik turun seakan tengah mengimbangi tusukan-tusukan penis lelaki. Aku mencium pangkal lengan mulusnya yang membentang ke atas mencengkram sperei ranjang itu. Lalu bibirku menelusuri lengan itu ke arah ketiaknya. Sambil mengecup dan sesekali menggigit, bibirku akhirnya sampai pada ketiaknya yang disuburi oleh rambut lebat. Harum ketiaknya membuat penisku semakin berdenyut di tengah kocokan tangan Bu Tia. Lalu bibirku mengecup dan menarik-narik rambut ketiaknya dengan buas, “Haahh.. haahh.. kak.. gelii..” Perempuan itu mendadak menjerit liar. Ah, rupanya ketiak merupakan salah satu ‘titik lemah’ yang dapat memicu keliaran dan kebinalan birahinya.

“kak..” Desahnya manja, “aku mau.., masukin penismu sekarang dong.. please..” Wah hebat.
“Sabar sebentar ya bu..” ujarku tersenyum sambil mengeluarkan jemariku dari vaginanya. Lalu menggeser tubuh sintal Bu Tia sehingga terduduk bersandar di pinggir ranjang. Kakinya menggelosor ke lantai dengan sedikit mengangkang.
“Mau diapain yang..?”
“Sshh.. nikmatin saja bu..” Aku mulai menciumi dan menyedot kedua buah dada montoknya. Lalu pelan-pelan bibirku mulai menyusuri perutnya yang semulus marmer itu ke arah selangkangan. Menyadari arah bibirku, perempuan itu mengepitkan kedua pahanya dan menahan kepalaku.
“kak.. jangan ka.. jangan ke situ.. aku Risih..”
“Hmm.. kenapa risih bu..? Kan penis dan tangan saya sudah pernah masuk ke vagina bu?”
“Dasar bandel.., aku risih.. soalnya kalau kamu cium disitu.. kamu akan lihat semuanya.. aku malu..”

“kak.. jangaann.. pleaasee.. aku maluu..” Terdengar suaranya seperti orang hendak menangis. “aa kak, jangan dipaksa dong.. oh.. oohh.. oohh..” Lalu yang ada adalah rintihan dan erangan Bu Tia penuh kenikmatan. Bu Tia melolong-lolong keenakan.
“Ooohh.. kak.. nikmat bangeet.. Yah.. yah.. iyaahh.. sedot daging yang atas sayang.. yah itu.. itu.. aahh.. sedot terus kak.. sedot terruuss..

Bu Tia mengangkat kedua paha dan menyandarkannya di pundakku. Lidahku dengan rakus menjilat daging merah yang terletak di antara dua bibir vaginanya. Kedua bibir itu sudah terbuka lebar dikuak oleh kedua tanganku. Rasa asin dilidahku makin merangsang birahiku. Sesekali aku memasukkan lidahku ke dalam lubang vagina itu dikombinasikan dengan sedotan-sedotanku pada vagina Bu Tia. Perempuan itu menghentakkan pinggulnya sambil menjilati bibirnya sendiri. Tangannya menekan kepalaku dengan keras di selangkangannya.

“Ohh Kak.. lidah kamu seperti penis.. nikmat banget keluar-masuk seperti itu.. aku rasanya sudah nggak tahan.. tolong masukin penis raksasamu sekarang dong kak.. please..” Penis raksasa?
“Kak.. ayo dong.. aku hampir keluar nihh.. hentikan sedotanmu sayang.. ayoo..” Huh, nafsu perempuan itu ternyata besar juga. ” Yah Kak.. Yah.. pelan-pelan kak.. ouhh besarnyaa..” Bu Tia mulai merintih-rintih.
“Uhh.. kak stop dulu sayang.. ssakiit.. hh.. hh.. hh..” Bu Tia tengah menenangkan dirinya menahan sakit dan nikmat karena dimasuki penisku yang besar itu.
“Yang.. aku sudah siap.. ayo.. masukkan semuanya.. yahh.. iyyaahh..” Oh, gila, gila.. penis besar itu pasti sudah masuk semua! ” Ahh.. terus Fi.. teruus.. lebih cepat.. Lebih cepaat..” Jerit Bu Tia. Dan suara derit pun terdengar lebih cepat. Vagina Bu Tia berkecipak dihunjam dengan keras oleh benda besar milik ku itu.
“Yahh.. sedot yang keras kak.. sedot yang keraas.. gigit puting ku sayang.. gigit puting ku.”
Leherku terasa hampir patah dipeluk oleh Bu Tia. Ia memintaku untuk menyedot buah dadanya sekuatku, menjilat putingnya secepatku, dan memompakan pinggulku sekerasnya. Tak kalah dengan tangannya, kedua kakinya merangkul erat pinggangku. Hentakan pinggulku membuat buah dada isteri pak Haji itu berguncang-guncang keras. Mulutnya yang seksi terus menganga menghamburkan jeritan-jeritan birahi. Kaki indahnya, kini terangkat di udara seakan menyambut tusukan-tusukan penisku. Keringat sudah membasahi seluruh tubuh membuat kulit kami terlihat mengkilat dan licin bila digesekkan satu sama lain. Otot tubuh Bu Tia tiba-tiba menegang. Oh, apakah ia akan mencapai puncaknya? Padahal aku belum apa-apa. Aku masih ingin lebih lama menikmati pergumulan ini.

Pinggulku menghentak semakin cepat dan cepat. Tubuh Bu Tia terguncang kesana kemari, dan gelinjangnya tampak sudah tak karuan. Tiba-tiba pahanya menjepit keras, dan pinggulnya yang sedari tadi berputar-putar liar itu diangkat tinggi-tinggi dan.., “Oooh.. aku keluar.. aku keluaarr.. ngg..” Terdengar suara Bu Tia merengek panjang. Tangannya menjambak rambutku dan serta mencakar pundakku. Matanya membelalak dan mulutnya meringis. Otot wajahnya tegang seperti orang yang tengah melahirkan. Ketika itu juga penisku terasa hangat disemprot oleh cairan orgasme Bu Tia. Dan dinding vaginanya seperti menyempit meremas-remas penisku.

Bu Tia yang kini terbaring lemas, seperti orang yang kehilangan tulang-belulang. Ah, mungkin cuma imajinasiku saja. Aku menghentikan aktifitasku, dan menikmati keindahan wajah isteri pak Haji yang sedang mengalami orgasmenya. Pipi ranum perempuan itu kini tampak memerah, buah dadanya mulai naik turun dengan irama teratur. Pelan-pelan wajah cantik itu membuka matanya, lalu dengan lembut ia mencium keningku dan dengan penuh kasih sayang memelukku erat.
“Terima kasih sayang, terima kasih.” Bu Tia memandangku dengan mata berbinar. “Kamu sudah menghilangkan dahagaku selama ini..” “Sama-sama bu.., ibu juga merupakan perempuan yang tercantik dan terseksi yang pernah saya lihat. Dan..” Aku mencium bibirnya lembut. Perempuan itu tergelak, lalu mencubit pinggangku. “Dasar perayu, ayo kasih aku satu menit untuk membersihkan diri, lalu giliran kamu aku puaskan.” Ia mencabut penisku yang masih tegang dari vaginanya, lalu membimbingku ke kamar mandi. “Punyamu itu benar-benar mengerikan lho kak..” Komentarnya ketika menyiramkan air dingin di tubuh kami berdua.

Air dingin itu mendadak seakan memberi tenaga baru bagi kita berdua. Kesegarannya terasa mengalir dari ujung rambut hingga ujung kaki. Setelah mengeringkan tubuh, perempuan itu menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Penisku yang sempat layu, kembali menegang menempel di perut mulusnya. “Hmm..” Ia bergumam kagum. “Si besar-mu itu sudah siap rupanya?” Aku mengangguk. Bu Tia tersenyum bahagia mendengar kata-kataku itu, mukanya berbinar-binar persis seperti remaja yang sedang kasmaran. Ia pun mulai menggesek-gesekkan perutnya ke penisku membuat cairan bening itu keluar lagi membasahi pusar. Malam ini, kamulah suamiku dan seorang isteri yang baik akan melakukan apa saja untuk menyenangkan suaminya.. ya nggak yang..?”

Sehabis menggosok-gosokkan jemariku di lipatan vaginanya, dengan gemas kuraih tubuh telanjang isteri pak Hajiitu dan kududukkan di pangkuanku dengan posisi saling berhadapan. Kakinya yang mulus itu mengangkang sehingga bagian bawah penisku menempel tepat di belahan vaginanya. Dadanya yang busung tepat berada di depan mulutku. Dengan segera kubenamkan mulutku di belahan buah dadanya. “Emm.. “, Bu Tia menggelinjang genit “Kamu suka sekali sama susuku ya..?” Sambil mulai menyedot putingnya aku mengangguk. Bu Tia mulai bergumam seperti orang terserang demam sambil memeluk leherku. Pantatnya digerakkannya maju mundur sehingga vaginanya menggesek-gesek batang penisku. Tak sampai 3 menit bergumul, Bi Bu Tia sudah terangsang kembali. Kasihan Bu Tia ini. Begitu lamanya ia menahan dahaga sehingga akibatnya, cepat sekali perempuan itu terangsang. “Ooohh kak.. bibi ngga tahan.. ” Tiba-tiba dengan cepat tangannya menangkap penisku, ia mengangkat pantatnya sedikit lalu menyelipkan kepala penisku di bibir vaginanya. Pelan-pelan, ia menurunkan pantatnya sehingga batang besar itu melesak ke dalam vaginanya yang, my god, sudah basah itu. “Aah.. ss.. aahh..” Bu Tia mulai mendesis-desis merasakan kenikmatan di dinding vaginanya. Hmm, agak terlalu cepat prosesnya, pikirku. Lalu kuhentikan gerak pantat perempuan itu sehingga penis yang baru masuk seperempatnya itu tertahan di dalam. “Ohh.. kok ditahan ‘yang..?” Bu Tia bertanya dengan nada kecewa. “Nggak, saya ingin cara lain bu Tia ngga keberatan kan..?”. Tiba-tiba perempuan itu tersenyum malu dan melepaskan penisku dari jepitan vaginanya. Ia lalu merebahkan tubuhnya di atas tubuhku sambil memelukku mesra. “Maaf ‘yang, aku lupa sasma kamu. Aku memang egois. Aku cuma memikirkan bagaimana untuk secepatnya orgasme lagi.. Maklum, anak perawan..” Kami berdua tergelak. Bu Tia, Bu Tia.. sayang kau isteri orang.
“Oke, kamu mau aku ngapain supaya puas..”
“Coba aku berlutut di depan saya..” Bu Tia tersenyum dan berlutut tepat diantara dua pahaku. Penisku kini tepat berada di dadanya yang montok.
“Terus.. ngapain..?” Katanya polos.
“Tutup mata bibi dan buka mulut.. saya ingin mencium bibir ibu sambil berlutut..”
“Uuuhh.. macem-macem.. ” Ujarnya manja, sambil menutup mata dan membuka mulutnya.
“Mulutnya kurang lebar bi.. saya ingin menjilat lidah bibi..”

mm! mm!” Bi Bu Tia menjerit-jerit kaget ketika kumasukkan penisku ke dalam mulutnya. Ia terbelalak melihat batang besar itu bergerak keluar masuk rongga mulutnya. Tampak ia agak jijik dan risih sehingga beberapa kali tampak hendak meludahkan penis itu keluar. Namun, tanganku dengan kokoh menahan kepalanya untuk memaksa mencicipinya.
“Maaf bu, saya paling suka kalau penis saya dikulum. Saya takut kalau minta, bu Tia malah nggak mau. Nah, terpaksa saya agak maksa. Tapi rasanya nikmat kan?”
“Mmm..!” Bu Tia menggumam keras sambil memperlihatkan ekspresi berpura-pura marah. Tapi, ia mulai menggerakkan kepalanya naik-turun tanpa paksaan. Nafasnya juga ikut memburu. Rupanya dengan mengulum penisku ia semakin terangsang birahinya.
“Yaahh.. begitu Bu.. tapi giginya jangan kena batang saya dong Bi.. sakiit.. Naahh begitu.. aouhh.. aahh..”

“Bu.. sekarang sambil masuk keluar, lidah bibi digoyang dong.. supaya kena urat sebelah bawah yang deket kepala.. yaahh.. yaah.. gituu.. addouwww.. Bu.. ennakk.. aahh..” Aku mulai menggelinjang-gelinjang. Tubuhku kini bersandar dengan santai di pinggir ranjang dan hanya pinggulku yang bergoyang-goyang mengikuti irama keluar-masuk mulut isteri pak Haji itu. Bu Tia memang orang yang cepat belajar. Terbukti tanpa petunjuk, ia mulai mengembangkan sendiri teknik-teknik oral seks. Seperti yang sedang ia lakukan saat ini, Bu Tia tengah menyedot sambil sesekali menggigit urat sensitif di bawah kepala penisku. Lalu, ia juga mengecup dan mencubit-cubit dengan bibirku batang penisku dari arah kepala sampai kedua bola di pangkalnya. Dan yang gila, ia kini bisa mengkombinasikan antara kuluman dan kocokan tangan. Penisku digenggamnya di bagian atas lalu diturunkannya ke pangkal batang. Ketika bagian kepala penisku keluar dari ujung genggamannya, mulutnya langsung menyambut untuk dikulum. Demikian seterusnya. Aku hanya bisa berkata “Bu Tia.. ennaakk.. aahh..” seraya membelai-belai punggungnya yang putih mulus itu. Kadang-kadang belaianku itu mendekati beBelahan pantatnya, yang sesekali kuremas gemas.

Aku mencabut penisku dari mulutnya lalu mengecup bibirnya mesra. “Terima kasih Bu.., kamu memang baik sekali..” “Tapi, kamu kan belum keluar ‘yang..?” “Hehe.. nanti juga keluar sendiri.. bi.. pinjam susunya dong..” Aku meletakkan penis besarku di belahan buah dada bibiku yang montok itu. Seakan sudah berpengalaman, perempuan itu menjepit penisku dengan buah dada kiri kanannya, lalu pelan-pelan mulai bergerak naik turun. “Oaah.. Oaahh.. Bu. jepitan susumu nikmat bangeett.. penis saya rasanya diremes-remes.. aahh..”.

Tiba-tiba didengarnya suara pemuda itu berkata, “Bu Tia.. saya ngga tahan lagi.. bu Tia benar-benar merangsang birahi saya.. Coba sekarang bibi berdiri menungging. “Begini kak..?”
“Yak.. betul. Kakinya dibuka agak lebar.. yak. Fuuhh.. Pantat bu Tia seksi sekalii..” “Kalau ku goyang seperti ini, kamu suka?” Bu Tia mulai menggoda dengan nada senang. Tentu saja senang. Siapa yang tak senang dipuji? “‘Yang.. kamu mau masukin dari belakang?”
“Yak.. ini satu lagi kesukaan saya.. bu Tia pernah melakukannya?”
“Boro-boroo..” jawaban Bu Tia. Terdengat suara Bu Tia merintih-rintih. “Sakit bi..?” Oh, aku mulai memasukkan penisnya dari belakang!

“Sedikit.. ss.. pelan-pelan ya yang..?” Bu Tia mencengkeram kain seprei itu seraya menggigit bibir. Rupanya ia merasa sakit menerima peneterasi dari arah belakang untuk pertama kalinya. Baru separuh penisku memasuki vaginanya. Aku membelai pantat yang sedang menungging itu, terus ke arah punggung, lalu ke bawah menyambut buah dadanya yang bergelantungan. Kepalanya menengok kebelakang ingin melihat bagaimana penis besarku memasuki vaginanya.
“Coba dorong lagi kak.. sedikit-sedikit ya..?” Aku mengangguk dan mendesakkan penisku semakin dalam. “Yaahh.. iyyaahh.. Akui.. auh.. panjang sekali punyamu yang..” Perempuan itu menjerit ketika seluruh penisku amblas tertanam dalam vaginanya yang becek itu. Lalu mulailah aku menikmati posisi kesukaanku itu. Kuhentakkan keras-keras pinggulku ke pantat Bu Tia. Setiap hentakan menyebabkan pantatnya bergetar dan buah dadanya berayun keras. Setiap hentakan itu juga menyebabkan mulut seksi perempuan itu menjerit dan meringis. Lalu kutempelkan perut dan dadaku di punggung mulusnya. Tangan kananku mulai meremas-remas kedua buah dadanya serta memilin putingnya, sedang tangan kiriku mengocok tonjolan daging di pangkal vagina yang dipenuhi oleh bulu-bulu keriting itu. “aahh.. aahh.. nikmat sekali yang.. posisi ini ennaakk..” Hampir 5 menit kami bergumul dalam posisi menungging. Tiba-tiba kurasakan desiran itu bergerak cepat dari ujung kepala, turun ke dada, melewati perut, dan terus ke selangkangan.. Otot-ototku mulai menegang.
“Bu Tia.. Saya mau keluar bu..”
“Ya sayang.. ayo sayang.. aku juga mau keluar.. aku juga mauu..”

Aku mendekatkan kepalaku ke kepalanya, Bu Tia menengok dan menyambut ciumanku dari belakang. Kami saling memagut sambil terus merasakan gesekan-gesekan di kelamin kami yang semakin cepat, kocokanku di klitorisnya yang semakin liar, remasanku di buah dadanya yang semakin keras, ciuman kami yang semakin buas diiringi “mmhh.. mmhh..” yang semakin keras dan sering. Tiba-tiba otot-otot tubuh kami menegang, lalu semakin menegang, semakin menegang, lalu..
“Bu Tia saya keluaar.. aahh..”
“Aku juga sayang, aku jugaa.. nngg..”

Malam itu, atas permintaannya aku menyetubuhi bu Tia sekali lagi di atas sofa ruang tamu. Untuk membalas dendam kepada suaminya, supaya permainan kami dintip suaminya begitu alasannya dengan nada gurau. Sesudah itu kamipun tidur berpelukan dengan mesra di disofa sambil bertelanjang bulat. Sebelum tidur kami mengucapkan beberapa kata cinta dan berciuman lamaa sekali.

Setelah persetubuhanku dengan bu Tia istri Haji Abdulah , esok paginya aku bolos kerja untuk mengeloni bu Fathiya. Pagi-pagi pak haji muncul untuk mencoba menemui istrinya tetapi istrinya nggak mau menemuinya. Rupanya tadi malam dia mengintip persetubuhanku yang seru di sofa ruang tamu sehingga kepengen juga. Rencana balas dendam bu Fathiya berhasil.

Karena ditolak pak Haji Abdulah ngambek dan pergi ke Samarinda dengan bu Fatimah, sedang Bu Tia nggak perduli karena dia sangat puas dengan permainanku. Seminggu berlalu rupanya dalam perjalanan ke Handil II boat yang ditumpangi pak haji dan bu Fatimah mengalami kecelakaan sehingga mayat penumpangnya hilang.

Anak-anak bu Fatimah menumpang dirumahku karena sudah tidak mempunyai keluarga lagi. Hubunganku dengan bu Tia semangkin mesra dia menjadi milikku seutuhnya sebagai istri Bu Tia mulai merasa kualahan melayaniku karena itu ia mengusulkan agar mengambil Reni sebagai istri kedua ku. Usul ini kusetujui karena kasihan dia kualahan melayani diriku yang tidak pernah puas.

Sore itu aku baru pulang kantor,aku sedang duduk di teras depan sambil membaca koran harian sore.
“Sore pak ini Reni buatkan teh buat bapak..?”sambil Reni memberikan secangkir teh kepadaku.
“Makasih Ren…?!jawabku padanya.
.
Sore itu Reni kelihatan nampak sexy sekali ,mengenakan bawahan pendek putih dan kaos tipis,sehingga tampak lekuk tubuhnya membuat libidoku menjadi bangun .
“Pak kelihatannya tampak lelah sekali ya pak….??Iya ta jawabku.
“Reni pijitin ya pak…”Lalu Reni tanpa di komando sudah memijit kepalaku.
“oh pijitan kamu enak sekali Ren…..??!
“Iya dong pak…..??!jawabnya.
Aku di pijit Reni dari belakang dan jemari tangannya dan tiba-tiba posisi Reni berganti memijatku dari depan sehingga dua gundukan susu Ita tampak jelas terlihat,sesekali tubuh Reni menempel ke tubuhku dan kejantananku pun semakin keras mengacung ke depan.
Aku mencoba untuk tenang dan memejamkan mata,tapi ketika tangan Reni mulai memijat punggungku dan tubuhnya sangat rapat sekali dengan tubuhku,sehingga dengan sengaja aku majukan pinggulku.
“Ah…..burung bapak nyenggol lutut Reni nih……???candannya padaku.
“Kalau nyenggol memangnya kenapa Ren…?”
“ah….bapak…Ren henti in nih mijitnya..?!”
“Jangan dong sayang…Reni enggak kasihan sama bapak..??!”
Aku segera mengajak Reni kekamar segera kukunci dan kududukkan ditempat tidur
Setelah ditempat tidur lalu aku tarik pinggul Reni,dan langsung Reni tertarik tubuhnya di pangkuanku
Posisi Reni sudah dalam pangkuanku dengan kondisi berhadapan dan kedua kakinya tepat berada dalam tumpuan pahaku.Sementara bawahan pendeknya sudah agak sedikit resingkap dan kejantananku sudah menempel tepat di vaginanya.Lalu aku tekan pinggul Reni dan pinggulku aku gesek-gesekan ke arah pinggulnya.dan terasa gundukan daging vagina Ita terkena benggolan kejantananku yang besar.
“pak ah…pak……pak…!!” Reni dia tampak menikmati karena terkadang ada satu gerakan pinggulnya yang mencoba mengimbangi irama gerakanku.
Reni mulai mengurangi gerakannya dan akupun semakin menggila,aku keluarkan seluruh kejantananku dari balik celanaku,sehingga makin menyembul keluar,lalu aku kukecup mulut Reni dengan mesra awalnya dia agak kaku tapi lama kelama-an mengikuti juga irama ciumanku.
“sleep…ah…sleeep ah…Reni mendengus ketika lehernya mulai kena oleh serangan bibirku”
“ah…pak ….enak…pak Reni belum merasakan seperti ini”Rintihnya.
Lalu tangan kiriku mulai menelusup ke dalam bawahannya dan aku langsung merangsek ke bagian depan celana dalamnnya,dan terasa mulut vagina Reni sudah basah,jari-jariku menyisir bagian pinggir celana dalamnya dan aku singkapkan sedikit,sehingga aku merasakan lubang vagina Reni sudah bebas tidak tertutup lagi oleh celana dalamnya,Lalu aku arahkan kejantananku mencari lubang kemaluan Reni,dan ketika aku tekan aku merasakan ujung kejantananku sudah tepat di lubang vaginanya dan ketika aku tekan.
“Ah…pak…sakit…pak……!!!”Mata Reni tampak terbelalak.
“Bentar sayang bapak masukin ya…..”dan napasku makin mendengus.
“Tapi…pak….ah….ah….sa….sakit..pAk… .!!! Ketika seluruh kejantananku masuk merangsek vaginanya yang masih sempit itu,kejantananku merangsek masuk dan aku rasanya begitu sempitnya vagina Reni.
“Bapak….aduh…bapak…aduh..pak…ah…ah.. ..!! !Reni mulai menjambak rambuatku,ketika kejantananku mengujani vaginanya berkali-kali.
“sleep…slepp..sleepp..plok…plokkk.antara pahaku dengan paha Reni saling berbenturan.”
“ahhh…aaah…aaaah…bapak sudah pak…..vagina Reni ngilu..!!!!
“Bentar sayang…uh….uhhh ,bapak lagi enak…..!!!’
Aku terus merojok-rojokan kejantananku pada Reni,sehingga Reni terkadang meringgis menahan sakit tusukan kejantananku.Tubuh Reni sudah mulai agak sedikit lunglai dan tersandar pada tubuhku,sedangkan pinggulku masih dengan perkasa mengoyang naik-turun sehingga seluruh kejantananku keluar masuk ke vagina Reni yang masih perawan itu.
Tubuh Reni nampa sudah basah kuyup oleh keringanya yang keluar deras dari pori-pori kulittnya.
“oooh sayang…oh…punya kamu enak sekali…ooohh….!!!!
Lalu aku hentak keras ke atas ketika ujung kejantananku sudah terasa akan mengluarkan spermaku.
“crooot….crooot…croot….ah..ah…”Aku dekap Reni dengan pelukanku begitu erat dengan pinggulku aku tekan kuat-kuat ke arah vaginanya.Seluruh spermaku masuk ke dalam vaginanya dan Renipun menjerit histerissss
“ah…paaaaak….ah…..”
Aku biarkan kejantananku menancap di vagina Reni,dan aku merasakan,denyutan rongga-rongga vagina Reni.Kami terdiam sejenak,sementara Reni masih dalam dekapanku dengan rambuat yan masih acak-acakan.
Lalu Reni merebahkan tubuhnya ke tubuhku dengan manjanya sambil jari-jari manisnya memainkan ujung rambut panjangnnya.
“Pak…bapak puas enggak menyetubuhi Reni”tanyanya padaku.
“Bapak puas sayang…punya Reni enak sekali….”
“mandi bareng yuuk sayang….
Reni mengangguk kecil dan kami akhirnya untuk pertama kali mandi bersama dengan Reni

Kehidupan sexku dengan ibu Ita dan Reni berlanjut terus tanpa halangan Mereka melayani nafsuku bergantian. Suatu hari supirku Katiman tertangkap basah menyelewengkan uang perusahaan yang cukup besar. Aku memberi pilihan keluar atau menggantikan uang yang diselewengkan. Rumah tangga mereka cukup boros pengeluarannya karena bu Yanti istri Katiman tidak bisa mengatur pengeluaran, dia sangat suka berdandan. Memang dia keturunan keraton Jawa sehingga mukanya cantik dan badannya montok tinggi dan kulitnya putih sangat terawat, sangat tidak cocok menjadi istri seorang supir didaerah. Keesokan harinya bu Yanti datang kekantor menemuiku didampingi suaminya dan Bu Yanti selalu mengeluh karena tidak cukup untuk menyelesaikan bayaran tersebut ,malah tidak cukup untuk belanjaan sehari-hari. Aku lihat muka Bu Yanti sedih.Aku tinggalkan Kak Bu Yanti sendirian dan masuk ke dalam ruangan lain.Tiba tiba Bu Yanti menyusul masuk ke ruangan itu dalam keadaan sedih.” Pak Pajang apa yang bapak minta akan aku turuti termasuk jika bapak mau menggauliku “, Bu Yanti mula menangis dan aku gunakan hal ini untuk dapat menikmati tubuhnya Denyutan nadi ku bertambah kencang waktu Bu Yanti berkata demikian, karena umpan ku sudah mengena.Aku rapatkan tubuhku kebadan Bu Yanti dan memeluknya sambil aku bisik ketelinganya.”Bu,.. besok kita ke Samarinda dan minta diantar pak Katiman untuk menginap dihotel Dia membalas pelukkan ku dengan kuat dan aku terasa buah dadanya mengenai dadaku.Aku mencium pipinya dan mengantar keluar ruangan dimana suaminya sudah menunggu. Aku cepat-cepat balik kerumah dan aku bilang sama bu Tia dan Reni besok aku ke Samarinda selama 3 hari karena ada urusan penting

Pagi-pagi aku dijemput Katiman dirumah terus menuju rumahnya untuk menjemput istrinya. Bu Yanti berdandan habis memakai kain kebaya sehingga buah dadanya yang putih seakan melompat keluar. Bau harum terkeuar dari badannya Bu Yanti dan aku duduk dibangku belakang sambil berpelukan sedangkan suaminya duduk sendirian didepan menyetir mobil. Sesampai di Hotel suaminya kuberi duit dan menginap dihotel lain. Istrinya kugandeng dan kupeluk untuk masuk kekamar. Sesampai di kamar kuciumi bibirnya dan lehernya dan tanganku membuka ikatan kain didadanya. Bu Yanti tidak membantah malah menarikku ke ranjang.Dia berbaring sambil membuka kain kebayanya dan Bu Yanti dalam keadaan telanjang. Phuh….terkejut aku melihat tubuh Bu Yanti sedang telanjang dengan buah dadanya montok dan nampak pantatnya yang lebat dengan bulu hitamnya.Kejantanan ku mula menegang didalam celana yang ku pakai.Aku pun memeluknya dengan mencium buah dadanya dan tanganku meremas remas buah dadanya yang sebelah lagi.Ku rasa tangannya memeluk tengkuk ku dan sebelah lagi menggosok gosok belakang badan ku.Setelah puas aku meramas buah dadanya tangan ku menjalar kebawah pusar dan mengusap pantantnya yang bahenol.Aku gosok gosok celah vaginanya dan jari ku mula masuk kedalam lubangnya. Bu Yanti mengangkat angkat punggungnya bila jari ku mengenai biji kelentitnya.Dia bersuara perlahan dan membisik ketelingaku ” Mas..aku geli.”Aku membenamkan mukaku kepermukaan pantatnya dan aku buka kedua dua bibir pantatnya untuk melihat lubang pantantnya. Aku sapukan lidahku dicelah bibir pantatnya dan ketika itulah Bu Yanti merengek rengek kesedapan dan mengangkat angkat punggungnya keatas.Tiba tiba aku merasakan tangan Bu Yanti menarik bahuku seolah olah minta aku naik keatas badannya.Aku pun bangun dan mengubah kedudukan dengan masuk ke celah pahaya, Bu Yanti membuka pahanya lebih luas dan ketika itu tanganya memegang kejantanan ku yang tegak mengacung dan menyenggol ke lubang vaginanya.Aku menekan kejantanan ku ke dalam lubang vaginanya, sedikit demi sedikit masuk hingga ke pangkal….oh nikmatnya, Bu Yanti menautkan kedua belah kakinya kepinggang ku sambil menggoyang goyangkan punggungnya dengan matanya terpejam. Sebelah tangannya lagi merangkul leherku sambil berbisik,..”Mas…aku geli..Mas”.Aku juga ketika itu merasakan begitu nikmat main lubang vaginanya.Aku membalas bisikannya,”oh….sedapnya mbak, Bu Yanti sempat mencubit manja bahuku karena ketika itu kami sedang menikmati nikmatnya bersetubuh.Aku terus memompa kejantanan ku ke dalam lubang vagina Bu Yanti sambil tangan ku meremas buah dadanya dan Bu Yanti terus mengangkat angkat punggungnya sambil tangannya meremas remas badanku.Aku merasa air maniku hampir tumpah apabila kak Bu Yanti melajukan goyang pantatnya dan tiba tiba dia mendekap badanku dengan kuat dan bersuara.”ugh…ugh..Mas..Aku tak tahan Mas….” dan aku juga tidak dapat menahan lagi air maniku menyembur dengan deras ke dalam lubang vagina Bu Yanti.Kami keletihan, ku lihat Bu Yanti masih terlentang karena kecapaian. Tiga hari itu kami habiskan dikamar hotel, puas rasanya menyetubuhi bu Yanti istri supirku

Setelah Bu Yanti disetubuhi oleh suamiku Supirku Katiman rupanya mempunyai dendam pribadi kepada suamiku. Walau Katiman seorang supir yang tak berdaya terhadap suamiku karena telah merusak rumah tangganya karena setelah dipakai beberapa kali istrinya dicampakkan suamiku dan kabur menjadi wanita penghibur dilokalisasi.

Aku sendiri hanya bisa pasrah melihat tingkah suamiku hawa nafsunya sering meluap-luap yang tidak terpuaskan Aku sendiri sudah jarang digauli karena mungkin sudah bosan. Suamiku sekarang membuka proyek baru di luar kota maka sekarang Aku diantar jemput dengan mobil oleh Katiman,. Sudah lebih dari 3 bulan suamiku tidak memberi kabar, ini membuat kekuatiranku bertambah, pernah aku menelpon tapi suamiku sibuk bekerja

Suatu sore aku harus belanja ke Samarinda diantar oleh Katiman menumpang di mobil ku, Aku yang menyetir mobilnya dan karena telah kenal baik maka Aku percaya padanya. Karena tidak enak kepadanya dia kuizinkan duduk disampingku menemani mengemudi. Rumah Katiman agak jauh juga di pinggiran kota dan kami harus melewati rumahnya dulu sebelum sampai ketempatku .
Selama di perjalanan hati Katiman berdebar-debar karena sudah lama ia ingin membalas dendamnya kediriku tapi belum ada kesempatan. Aku berkelakar dengan Katiman Jalanan dari Samarinda ke Handil sangat sepi dan gelap Ditengah perjalanan Katiman yang memberanikan diri untuk memegang pahaku yang saat itu cuma memakai rok pendek. Aku agak tersentak, maklum aku sambil menyetir ia dikejutkan oleh ulah Katiman itu.
“Eeeh… apa-apaan nich, kok gitu Pak.” kata Aku.
“Maaf Aku, saya sudah lama naksir kamu tapi gimana lagi..” jawab Katiman.
Aku memperlambat laju mobilnya dan menghentikan di pinggir jalan itu dan marah kepada Katiman.
“Katiman… kalo gitu.. kamu turun saja di sini!” ancamku.
“Jangan begitu dong Bu Tia.. saya tau kamu pasti butuh laki-laki untuk mengisi kesepian kamu selama ditinggalkan suamimu, kan suamimu jauh?” jawab Katiman, “Saya bersedia aja kalo kamu membutuhkan saya.” timpal Katiman.
Memang ada benarnya juga perkataan Katiman itu. Aku berpikir. Tapi haruskah ia berselingkuh sedangkan suamiku saat ini jauh? secara fisik Aku memang masih cantik dan disaat libido seksku sangat butuh pelampiasan, aku masih cantik, seksi ditunjang dengan kulit yang putih.
Memang akhir-akhir ini aku sering uring-uringan jikalau nafsunya memuncak, akhirnya aku membiarkan Katiman memegang tangan dan meraba lubang sorgaku, lalu meremas pahanya serta mulutnya mengulum bibir tipisaku itu. Aku hanya diam menunggu apa yang akan di lakukan Katiman, akan tetapi Katiman sadar ia sedang berada di jalan, dengan cepat ia mengambil alih stir mobil dan melanjutkan perjalanan ke rumahnya.

Cerita Seks Ngentot,Cerita Sex Menantu,Cerita Sex,Cerita Dewasa Cerita Sex Selingkuh,Kisah Seks Dengan Mertua,Cerita Ngentot,Cerita Sex Terbaru 2018,

Sesampainya di rumah Katiman yang sepi di kawasan Handil 1, Aku lalu dibawa ke kamarnya yang kosong dan jorok, maklum sebagai supir ia tidak sempat bersih-bersih. Aku hanya diam menunggu dan membiarkan Katiman berkuasa atas diriku. Katiman membuka kemeja dan kembali mencium bibirku yang sudah menanti untuk dikulum, dari bibir terus beralih ke leher Aku yang jenjang, sementara tangan Katiman sibuk meremas payudaraku yang terbungkus blus putih itu. Ia menemukan dua bukit kembarku dan meremasnya, dengan buas Katiman membuka paksa blus Aku sehingga kelihatan dada mulus yang ditutupi BH pink , sambil menciumnya. Katiman berusaha membuka pengikat BH itu. Sempat terlihat olehnya ukuran BHku yang 34B, namun nafsu keduanya telah menguasai mereka.
Aku membalas perlakuan Katiman itu dengan membuka celana panjangnya sehingga batang kemaluan Katiman yang panjang dan hitam itu terlihat ditutupi oleh CD warna merah. Sambil membuka CDnya, Aku terus meremas batang kemaluan yang panjang itu dan ia membandingkan dengan milik suamiku yang ukurannya tidak sepanjang dan sebesar punya Katiman.

Aku kemudian mengulumnya sehingga tidak muat di mulutnya tapi ia berusaha untuk terus mengulumnya. Sementara Katiman asyik dengan menggigit payudara putih itu dengan rakus dan posisi mereka saat itu membentuk 69. Katiman mengorek-ngorek liang kewanitaanku dan menjilat klitorisnya, ini membuat Aku tidak kuat untuk bertahan dan ia langsung klimaks karena Katiman pandai membuat emosi Aku melambung. Sedangkan Katiman belum juga mencapai klimaks, maka ia memaksa Aku untuk terus memperkuat tarikan mulutku pada batang kejantanannya.
Kira-kira 10 menit kemudian, Katiman menumpahkan air maninya di mulutku, ini membuatnya kembali bersemangat untuk kembali mengulang permainan. Bagaimana pun Katiman masih penasaran ingin mencoba liang kewanitaanku yang merah jambu itu. Aku keberatan sebab aku tidak mau hamil kalau Katiman memasukkan batang kemaluannya, aku hanya mau melakukan oral seks saja.
Katiman terus berusaha untuk membangkitkan nafsuku dengan kata-kata dan cumbuan, akhirnya Aku kembali terbangkit birahinya dan Katiman meletakkan bantalnya di pinggulku supaya ia leluasa untuk memasuki tubuhku, lalu dengan mesra Katiman melebarkan pahaku dengan memegang kedua kaki jenjangku dan membukanya sehingga kelihatan isi kemaluanku yang di dalamnya ada sejumput daging yang kalau dikorek-korek akan menambah kenikmatan bersenggama. Kemudian dengan sedikit dipaksakan karena Aku tidak bersedia, akhirnya aku tidak bisa melarang namun Katiman harus mengeluarkan air maninya di luar. Katiman setuju dan dengan susah payah batang kemaluan Katiman itu masuk ke liang kewanitaanku dengan sedikit meleset dan Aku sempat terpekik karena sakit saat batang kejantanan Katiman menembus liang senggamaku yang masih sempit itu namun Katiman terus saja memaju-mundurkan batang kemaluannya.
Kira-kira 20 menit Katiman berusaha untuk memuaskanku, sedang Aku telah tiga kali mengalami orgasme namun bagi Katiman masih belum terasa, baru pada menit ke 20 ia menumpahkan spermanya di dalam liang kewanitaanku sebanyak-banyaknya, ia lupa dan saat itu yang ada dalam dirinya hanya untuk kepuasan. Aku baru ingat, aku amat takut hamil apalagi Katiman tidaklah sepadan dengannya serta jauh dibawah suamiku tapi karena ia telah mampu memberikan kepuasan kepadanya Aku cuma bersiap-siap untuk meminum pil anti hamil yang aku simpan di rumah. Dengan sedikit tertatih-tatih, Aku mengenakan blus dan rok karena jam telah menunjukkan pukul 12:00 malam, maka akuburu-buru pulang, Aku lupa memakai CD dan BH-ku maklum Aku takut terlambat sampai di rumah, Sesampainya di rumah, Aku langsung mandi dan tidur. Masih terbayang olehnya kebuasan Katiman saat menggagahiku mulai dari caranya memegang kakiku dan membuka pahaku sehingga aku merasa sensasi vaginaku telah disirami oleh Katiman. Aku masih melihat adanya jejak tangan Katiman di paha putihku saat Katiman menggigit pahanya karena gemas.

Setelah kejadian itu, hampir disetiap kesempatan Aku selalu didesak oleh Katiman untuk bersenggama baik di rumah Katiman maupun di rumahku. Kalau Aku tidak mau maka Katiman akan membongkar skandalku karena ia selalu memperlihatkan CD dan BHku yang tertinggal saat aku bersenggama dan pada CD itu ada noda spermanya dan cairan kewanitaanku, maklum saat itu Katiman sempat mengelap spermanya di mulut rahimku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa sebab aku memang butuh belaian dan cumbuan laki-laki, apalagi laki-laki tersebut sangat perkasa hingga memberinya kenikmatan yang tidak pernah diperoleh lagi dari suamiku.
Sedang Katiman sangat puas dapat membalas dendamnya karena telah menyetubuhi diriku. Sedang suamiku tidak tahu dan peduli atas kejadian ini

Setelah proyek di Handil 2 selesai aku pindah ke Badak untuk membuka proyek baru. Hubungan sex antara Bu Tia dan Katiman terus berlanjut, Katiman keluar dari pekerjaan untuk membantu bu Tia berdagang dipasar. Sedangkan Reni dengan adik-adiknya kukontrakkan rumah dan kukirimi uang setiap bulan untuk menghidupi keluarga itu.

Selama di Badak aku berpuasa berhubungan sex dan kalau kepepet Reni kuhubungi untuk menginap semalam dua malam di Mess. Seperti Handil kondisi di Badak minim hiburan setiap sore kami nongkrong di komplek pelacuran disana untuk minum-minum dan anak buahku melampiaskan nafsu shawatnya. Aku jarang sekali main dengan wanita penghibur karena aku geli memakai barang sisa orang banyak

Disana ada suatu warung yang tidak begitu ramai tetapi WTS nya pilihan sehingga kalangan biasa tidak kuat membayar. Pemilik tempat itu bernama Haji Daud yang merupakan orang yang dituakan dan paling disegani diseluruh kompleks pelacuran itu karena ilmunya tinggi. Kalau mampir aku mengobrol dengan pak Daud sambil minum bir sementara anak buah berkencan dengan anak buahnya. Kami sangat cocok sehingga aku dianggap adik angkatnya. Proyekku disana aman tidak mengalami gangguan sedikitpun karena diback up seratus persen oleh pak Daud. Reputasiku sering main wanita di Handil diketahui juga oleh pak Daud malah dia menganjurkan aku memakai anak buahnya free tetapi aku menolak dengan halus. Kukatakan padanya aku tak mau satu lobang rame-rame dan dia ketawa mendengar alasanku sehingga aku dibilang lelaki berkelas.

Suatu hari aku diajak kerumahnya diluar kompleks. Disana aku diperkenalkan dengan istrinya bu Putu yang merupakan keturunan dari Bali. Bu Putu masih muda dan cantik yang ditunjang postur tubuh serta wajah yang mudah mengundang para laki-laki untuk
mendekatinya walau. berkulit sawo matang dengan tinggi 180 cm badannya langsing juga umurnya baru 24 tahun. Secara rutin Putu rajin ikut perawatan kecantikan dan senam kebugaran tubuh, sehingga iaselalu nampak sehat sekaligus amat sensual berkat kecantikannya tersebut di atas.
Tidak sebanding dengan pak Daud yang berumur 50 tahun walaupun begitu bu Putu sangat mesra terhadap pak Daud dengan melayani penuh kerelaan. Diruang tamu kami berbincang-bincang dan pak Daud minta tolong kepadaku agar aku mau menggauli istrinya karena dia ingin sekali membahagiakan bu Putu. Pak Daud sudah tidak mampu lagi menggauli wanita karena umurnya sudah lanjut dan terkena penyakit gula. Karena itu bila istrinya membutuhkan dia hanya bisa menjilat-jilat kemaluan istrinya. Pak Daud juga menceritakan bahwa dia menikahi bu Putu karena bu Putu seorang yatim piatu juga untuk menambah wibawanya. Mereka berdua bersandiwara seakan-akan suami istri yang mesra
Dan mereka berdua mendengar aku adalah lelaki yang tidak sembarangan mau menggauli wanita karena itu mereka memintaku untuk membantu karena aku dianggap bersih dari penyakit. Setelah aku mau membantu mereka untuk menyetubuhi bu Putu. Pak Daud juga minta tolong aku mengantarkannya ke Balikpapan karena pak Daud akan ke Jawa Timur selama sebulan untuk mencari wanita penghibur disana. Aku juga diminta mengawasi warungnya. Kami berpamitan kepada bu Putu untuk ke Balikpapan mengantar pak Daud
Bu Putu membisiki aku agar berhati-hati dan dia menungguku malam itu
Sekitar jam 10 malam aku baru sampai kerumah pak Daud setelah kuketok pintu bu Putu membukakan pintu menyuruhku masuk Malam itu bu Putu tampak cantik sekali berdandan memakai kain kebaya pengantin berwarna putih sangat kontras dengan warna kulitnya yang sawo matang itu. Bau wangi menyeruak dari tubuhnya menerpa hidungku.
Disuruhnya aku mandi dikamarmandi utama dikamarnya. Setelah mandi disiapkan kai sarung serta baju kaus, lalu diajaknya aku makan malam dengan disuapin seperti anak kecil olehnya. Setelah selesai makan kami berangkulan kekamar tidur. Sesampai dikamar kucium keningnya dengan mesra dan bu Putu berbisik padaku : Pelan-pelan ya Mas aku masih perawan dan akan kuserahkan diriku seutuhnya padamu. Aku tidak menjawab tetapi mulai kuciumi mukanya.

Kemudian aku meraih tangan bu Putu. ku cium punggung tangan yang lembut itu.
Ciuman di punggung tangan Putu yang juga disertai kecupan kemudian jilatan lidah oleh kumerembet seiring dengan rembetan syahwat birahiku.Bibir ku mulai mengulum
jari-jari lentik bu Putu.Amppuunn..
Perasaan buPutu merinding dan berdesir. Sensasi itu berupa energi yang menggelitik dan membangunkan saraf-saraf libidonya. Sebuah rangkaian isyarat dari libidonya yang membangkitkan hasrat birahi. Kuluman dan jilatan bibir
dan lidahku langsung menerpa syahwatnya. Bu Putu merasa seakan dibanting dan
kemudian dilemparkan ke orbit nikmat syahwat yang tak bisa diucapkan dalam kata.
Bibir dan lidah ku yang mengulum dan mejilati jari-jarinya membuat bu Putu terbangkit
syahwatnya. Bibir dan lidah itu seperti alat kejut pacu jantung. Tubuh dan jiwa Putu
disentak-sentakkan untuk menerima sebuah nalar baru. Seakan bertekuk lutut pada apa yang tak mampu dia hindarkan, Putu langsung berubah sikap dan cara pandang hidupnya.
Bu Putu kini siap menerima Aku sebagai suaminya yang harus dia layani
sebagai layaknya seorang istri yang patuh pada kewajibannya. Bu Putu mendesah dan melenguh panjang. Dia telah tenggelam dalam hasrat seksual yang sangat tinggi. Karena tak terjamah oleh lelaki secara sempurna kini bu Putu sangat matang untuk menerima kehadiranku.
Dengan penuh intens Aku merambatkan bibir dan lidahnya ke lengan-lengan bu Putu. Dan pelan-pelan tetapi pasti tangan-tanganku menerobos kain kebaya dan memeluki
punggung ‘istriku’, sedikit meremasi belikatnya untuk kemudian dilepaskannya untuk
meneruskan rabaannya menuju ke dada. Dia mendengarkan betapa bu Putu merintih nikmat saat jari-jariku menyentuh kemudian memilin kecil puting payu daranya.
Bu Putu yang juga pelan tetapi pasti telah hanyut dalam nikmat birahi tahu bahwa sudah saatnya dia mesti melepaskan busananya. Dia harus dan ingin membuka jalan untuk bibir dan lidahku melata merambahi tubuhnya. Dia lepaskan bros berlian yang jadi kancing-kancing kebayanya itu. Dia lepaskan ikatan tali BH-nya. Dia hidangkan susunya yang ranum untuk dikemot-kemot bibir tuaku Selanjutnya Bu Putu hanyalah menunggu sambil merintih dan mendesah nikmat. Tangannya memeluk dan mengelusi kepala ‘suaminya’. Bu Putu meremasi rambutku sebagai ungkapan dan penyaluran gelisah birahinya.
Terlintas dalam pikiranku untuk meninggalkan cupang-cupang pada seluruh tubuh bu
Putu.
Jadi yaa.. Dengan cupang-cupang itulah yang sedang aku lakukan kini. Aku telah mencupangi leher buPutu dan kini dia cupangi pula buah dadanya, rusuknya, dan yang
telah menggelisahkan syahwatku adalah ketiak bu Putu yang bersih. Lidahku merambah lembah putih ketiak bu Putu sambil hidungnya mengendusi aromanya. Bibirku menyedot lama untuk merasakan asin keringat ‘istriku’ sekaligus meninggalkan cupang.Aku melakukan itu pada kedua belah ketiaknya.
Bagaimana Bu Putu menerima hamparan nikmat yang dilayankan olehku. Bagaimana Putu menjawab tulus telah tersalurnya syahwat yang terpendam. Bagaimana Putu
mengungkapkan ‘thanks’-nya kepadaku atas sensasi-sensasi yang begitu melimpah Jawabannya adalah desah, lenguh serta rintihan syahwatnya.
Dengan desah, lenguh dan rintihan itu bu Putu telah mendongkrak semangatku menjadi
berlipat kali. Aku semakin kiprah dengan jilatan dan kecupanku. Dan pada kelanjutannya
Aku membopong Bu Putu dan memindahkannya ke atas ranjang.
Bu Putu tak merasakan apa-apa lagi saat tubuhnya kubopong Dia sedang larut dalam
arus birahinya. Bagi Aku yang sebagai orang proyek itu membopong bu Putu bukanlah hal yang berat.
Otot-otot lenganku nampak mengeluarkan biseps-nya saat tubuh bu Putu dalam boponganku
Arus birahi Bu Putu menuntun spontan untuk memeluki bahu dan leher ku. Dengan posisi begitu aku dengan hati-hati meletakkan tubuh Putu ke kasur empuk ranjangnya. Dan saat itulah bu Putu yang semula memeluki leher kini dia menenggelamkan wajahnya ke leherku dan menyentuhkan bibirnya. Aku tahu bu Putu dalam keadaan sangat haus. Dia merasakan nafas Putu di lehernya. Juga saat bibir bu Putu menyentuh pori-pori lehernya yang membuat aku kini ganti mengeluarkan desahannya.
Memang bu Putu telah terayun dalam gelombang birahi. Ciuman yang meninggalkan cupangcupang pada tubuhnya membuat bu Putu terlempar tinggi dalam orbit syahwatnya. Bu Putu menjadi demikian haus dan kering tenggorokannya. Dia ingin ada sesuatu yang bisa membasahkan rongga mulutnya. Dengan sedikit menyentuhkan bibirnya ke leher ku dia bisa merangsang liurnya keluar dari kelenjarnya hingga kering mulutnya terhindari.
Namun saat dia mendengar desah ku akibat dari sentuhan bibirnya itu, birahinya yang
memang telah bangkit langsung terdongkrak.Dia mulai merubah sentuhannya menjadi kecupan kemudian gigitan kecil. Tangannya bergerak menggapai dada ku kemudian meremasi otot-ototnya. Dia rogohkan tangannya masuk ke dalam sarungku yang belum
dilepaskannya. Bu Putu menjawab desahanku dengan rintihan kehausan.
Aku tanggap pada apa yang kini menyergap ‘istriku’. Aku harus melakukan peranannya
selaku ‘suami’ dengan sebaik-baiknya. Ku tindih tubuh bu Putu untuk kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah bu Putu. Bibir ku dengan rakusnya menerkam bibir bu Putu. Lidahku diruyakkan ke mulut bu Putu untuk mendapatkan lidah bu Putu pula. Gayung bersambut. Bu Putu yang demikian kehausan langsung menerkam balik mulutku Yang dia rasakan kini adalah kenikmatan saling pagut dan lumat antara mulutnya dengan mulut ku. Lidah dan ludah ‘suami istri’ itu saling bertukar. Mereka telah menyatu dalam ke-tunggalan arus syahwat birahi. Bu Putu bersama aku mulai mengarungi samudra nikmatnya pengantin baru.Desah dan lenguh saling bersahutan keluar dari mulut bu Putu dan mulutku. Sebuah peristiwa Hak dan Kewajiban
suami dan istri sedang berlangsung di kamar. Jam dinding yang berdetak-detak tak lagi mengganggu keasyikan dua insan dalam mengarungi nikmatnya nafsu birahi.
Tangan-tangan lentik bu Putu nampak tanpa ragu dan tak sabar melepasi sarungku
bu Putu tak mampu menahan diri. Dia dekatkan bibirnya. Hidungnya mencium bau alami dari keringat tubuhku yang kini adalah suaminya ini.Bau itu sangat menyentuh nuraninya. Putu merasa jauh dari yang serba artifisial dan industri. Dia merasa jatuh ke pangkuan alam yang penuh jujur dan bening.
Dia semakin merasa terangsang secara seksual dalam tindihan tubuhku yang kokoh, kuat dan kasar itu. Gairah libidonya membakar semangat syahwatnya untuk melakukan apapun yang dia inginkan. Bu Putu ingin jadi bu Putu pribadi. Putu ingin meng-ekspresikan kehendak syahwatnya secara jujur dan lugas.
Dia tak lagi menunda keinginan syahwatnya. Dengan penuh nafsunya dia mengemoti dadaku
Dia mencaplok susuku. Dia gigit-gigit kecil putingnya. Dia juga pelukkan
tangannya ke punggung ‘suaminya’ dan mencakar-cakarkan kecil kuku-kukunya ke daging gempal punggungnya.
Sungguh sebuah karunia dunia yang kini sedang melanda nikmat pada diriku. Seorang
perempuan secantik dewi tengah nyungsep di dadanya. Pentil susunya sedang dalam lumatan bibir-bibir mungil bu Putu yang ‘istriku’ ini. Kenikmatan tak bertara yang ku baru pertama rasakan seumur hidupnya. Kemaluannya langsung ngaceng membengkak Aku kini lebih berani untuk menindihkan selangkangannya ke paha istriku. Aku juga
gesek-gesekkan tonjolan itu. Dia ingin tunjukkan betapa organ vitalnya telah demikian haus untuk menyentuhi tubuh bu Putu.
Dalam posisinya yang tertindih, bu Putu menerima isyarat syahwat ku. Dia tahu yang
menggesek-gesek pada pahanya adalah ****** ku yang kini ‘suaminya’ itu.Dia
merasakan ada hangat dari tonjolan kontolku. Dia kembali merasa bahwa akan
mengalami sensasi yang lain. Dia akan menjamah dan dijamah ****** dari lelaki lain yang sama sekali tidak dikenalnya sebelum ini. Macam apakah wujudnya? Sebuah dorongan untuk menyibak keingin tahuan mendesaki
rongga hati Putu. Dia meng-‘egos’kan pinggul dan pantatnya. Bu Putu menjawab isyarat syahwatku dengan isyarat pula. Pinggul dan pantatnya menjemput desakkan kontolku bu. Putu juga mengeluarkan desahan dan rintih panjang. Bu Putu nampak amat haus
dan menuntut untuk dipuaskan olehku
Aku menjawab tuntutan Putu dengan nalurinya. aku bangkit melepaskan emotan bibir
Putu pada puting-puting susunya. Dengan kobaran birahinya aku turun ke selangkangan
‘istriku’. Tanganku merenggut pinggul untuk merangkul pahanya. Dia mulai dengan menciumi perut bu Putu yang langsung merespon dengan menggelinjang dan berteriak dalam desahannya.
Kegelian erotis yang luar biasa menyerang bu Putu. Jilatan dan sedotan pada pori-pori perut yang sarat dengan saraf-saraf peka membuat bu Putu kelojotan dan menggeliat-geliat.
Sementara itu tangan-tanganku juga meremasi bongkahan pantatnya yang sungguh
indah itu. Bu Putu benar-benar mendapatkan sensasi seksual yang luar biasa dari lelaki yang baru dikenalnya ini. Demikian birahinya yang mendesak-desaki saraf-saraf peka itu membuat bu Putu tak lagi mampu mengontrol gejolak syahwatnya. Dia tak lagi menahan teriakannya. Dia meraung keras seakan hendak memecah kaca-kaca dan menggetarkan kain gorden kamarnya.
Dia cabik-cabik bahu ku. Dia betoti gumpalan otot ku. Kemudian dia sorong
kepalanya. Bu Putu sudah sangat ingin aku merambahkan bibirku ke memeknya.

Aku memang tersorong ke bawah tetapi belum ingin memenuhi tuntutan Putu. Aku tidak
atau belum menyentuh memek ‘istriku’ yang kini masih terbungkus celana dalam putih itu.Aku menenggelamkan mukanya ke selangkangan wanita cantik ini. Aku menciumi dan menjilati dengan penuh histeris kedua selangkangan sang dewi ‘istriku’ itu. Aku ingin menghirupi sebanyak aroma yang menebar dari lembah dan palung-palung selangkangan yang demikian bersih dan memancarkan pesona itu.
Jangan tanyakan lagi bagaimana gelinjang yang menerjang sanubari bu Putu. Pantatnya diangkat-angkatnya untuk menjemputi bibirku dan tangannya meremas jengkel penuh
geregetan syahwatnya. Dia jengkel kenapa Aku tidak lekas nyungsep ke lubang
kemaluannya. Tetapi dia juga menikmati betapa lidah-lidah dan bibir-bibir ku menjilati
dan mengulum-kulum seluruh kawasan selangkangannya itu.
Sekali lagi Aku belum ingin menyentuh memek istriku. Dari selangkangnya aku sedikit
meng-‘egos’kan wajahnya untuk menyentuhi celana dalam bu Putu untuk kemudian cepat
menurunkan jilatan dan kecupan bibirnya ke kedua paha Putu. Uuuhh.. Bagaimana aku
tidak terpana.Paha bu Putu ini benar-benar paha yang..Uuhh.. Aku tak mampu
mengistilahkan. Aku tak kuasa menyebutkannya. Keindahan paha bu Putu seakan tak
tersentuhnya. Nyaris tak kuat memandanginya. Aku hanya terus mengecupi dan
menjilatinya. Sepanjang itu pula hidungnya terus menerus diterpa wangi tubuh ‘istriku’.
Aku menyadari bahwa tak mungkin membiarkan bu Putu terlampau lama disiksa syahwat
birahinya. Tak mungkin membiarkan bu Putu menunggu dengan kejam permainan libidonya. Aku menyadari bahwa bu Putu telah sangat tak tertolongkan. Dia harus cepat dipenuhi tuntutan kehausannya.
Kini aku menindih tubuh bu Putu dengan sepenuhnya telanjang. Kemudian dia
mengisyaratkan kepada ‘istriku’ bahwa dirinya telah lepas busana. Dia naik kembali untuk
menerkam susu-susu ranum Putu. Bibirnya mengemoti puting-putingnya. Dan dia juga
membiarkan kontolnya yang telah demikian keras dan ngaceng lepas untuk menekan paha bu Putu.
Bu Putu merasa Aku mempermainkannya. Syahwat birahinya marah dan mengamuk. Dia betot gumpalan otot-otot ku dengan cakarnya. Dia lampiaskan kemarahan birahinya yang panas membara. Dia teriak dan menangis histeris,
“Mas.., kamu kejam!! Kejam!! Ampuunn..!Ayyoo..Mass. .! Cepat mas.., kamu telah menyiksa aku mass..!! “. Tangannya juga memukuli otot-otot tubuhku.
Ucapannya yang terakhir ini disertai dengan amuk tubuhnya.Dia bangkit bak singa betina lapar.
Dia bangun dengan tangannya cepat mencari untuk menerkam ****** ku. Dan.. Kena!
Tangan itu bisa meraih dan menangkap kemaluan ku.Tetapi seketika pula dia cepat
lepaskan.bu Putu sungguh terkaget dan terpana.Dia sama sekali tidak membayangkan akan apa yang sesaat tadi di raihnya.Dia sangat kaget hingga tubuhnya tersentak. Dia mendapatkan ****** yang sangat hewaniah. Kemaluan ku hampir tak tergenggam oleh telapaknya.
****** itu hhaahh.. Kenapa demikian ukurannya. Sangat besar dan demikian panjangnya.
Sangat tak sepadan dan begitu jauh dengan ****** milik pak Daud suaminya itu. Putu
berbalik dengan kengerian. Adakah dia harus melayani monster ini?
Tetapi lumatan bibir-bibir nikmat ku yang ‘suaminya’ di puting-puting susunya
memberikan jawaban pada syahwat Putu.Lumatan bibir ku itu macam api pemicu.
Lumatan itu juga disertai gigitan kecil yang sangat pedas. Pedasnya ini merambati saraf-saraf libidonya menuju kawasan yang paling peka di tubuhnya. Kemaluan bu Putu tak lagi mau menunggu keraguan pemiliknya.Memek bu Putu kini telah demikian membasah oleh cairan birahinya. Dia, kemaluan itu telah menantikan kemaluan gede ku memasuki gerbangnya.
Dan bu Putu, yang sementara dalam keraguan berada di persimpangan, tanpa dia sadari
sepenuhnya kini tangannya bergerak dengan sangat cepat.
Tangan-tangan bu Putu merengkuh dan menarik lepas celana dalamnya sendiri. Dia angkat menjulang tungkai kakinya untuk melepas keluar potongan kecil kain putih celana dalamnya itu.
Dan kini bu Putu telanjang bulat.. Dia tunjukkan keindahan kewanitaannya. Dia tampakkan rahasia kemaluannya yang diseputari rambut-rambut halus tipis yang sangat mempesona. Dia pamerkan betapa kelentitnya merebak lebar simetris macam sayap-sayap kupu dengan warna merah bak anggur yang matang siap panen. Duh.. Sungguh indahnya kelentit itu..
Pengantin putri ini telah siap memberikan keindahan tubuhnya untuk melayani kebutuhan
nafkah batin bagi pengantin prianya.
Ketakutan Putu telah sirna. Dia yakin ‘suaminya’ akan membimbingnya dalam menapaki nikmat surga dunia. Dan itulah yang kini sedang kurintis
Dia menguakkan paha istrinya dan membuka jalan bagi kemaluannya untuk mendekat ke
gerbang memek bu Putu. Bu Putu menutup matanya. Dia ngeri menyaksikan monster itu. Dia hanya percayakan kepada suaminya dan menunggu serta merasakan apa yang terjadi.
Agak terkaget saat ujung ****** ku menyentuh bibir kemaluannya. Tetapi kaget itu
langsung sirna tergantikan rasa gatal sekaligus haus yang sangat. Dia tak sabar lagi untuk
merasakan kemaluan ku menerjangi gerbang memeknya. Pantatnya naik dan bibir
kemaluannya menjemput.
Jerit sakit dan pedih erotis dari mulut bu Putu terdengar memenuhi kamarnya. Karena keperawanannnya segera sirna Aku telah mulai menekankan batang kemaluannya ke gerbang kemaluan bu Putu. Aku menekan tubuhku untuk mendorong dan menembus keperawanan istriku. Dan uucchh.. Bagaimana bu Putu akan tahan? Kemaluan itu
sangat sesak menerobosi memek Putu yang demikian sempitnya. Rasa sakit dan pedih langsung menerpa bu Putu.Sakitnya rasa kehilangan selaput perawannya
Basah birahi dari lubang memek bu Putu tidak banyak membantu. Bu Putu mengaduh-aduh dalam rintihan dan desahannya meninggalkan iba. Tetapi aku tak kenal menyerah.
Dia coba lagi dengan tambahan ludahnya untuk pelicin. Tetapi tak juga membuahkan
kelancaran.Akhirnya Aku merubah cara. Aku turun ke selangkangannya. ku hadapkan
wajahku ke memek Putu. Dia dekatkan bibirnya. Aku langsung melumatkan mulutku ke
memek bu Putu. Dengan penuh kelembutan dia melumati seperti melumati bibir buPutu. Dengan penuh perasaan dia mengulum sepasang kupu-kupu kelentitnya seperti mengulum lidah di bibir bu Putu. Dengan penuh selera dia menghisap cairan-cairan birahi Putu dan menelannya. Dengan penuh kecapan dia nikmati rasa asinnya.
Aku berusaha menghilangkan ketegangan ataupun ketakutan ataupun keraguan pada diri
Bu Putu. Dengan cara ini Aku telah membuat lubang memek Putu menjadi lebih lemas dan relaks. Dan bagi bu Putu sendiri akan membantu mengurangi ketegangan.
Bermenit-menit aku melakukan olahan pada memek bu Putu hingga dia yakin bahwa bu Putu telah siap untuk menerima tusukkan kemaluannya. Dan bu Putu.. Dia sungguh merasakan kelembutan dan lumatan bibir ku di memeknya.
Dia terbang ke awang nikmat dan terbuai dalam alun syahwat yang tenang tetapi sangat
menghanyutkan. Dalam situasi begitu Putu yang kembali menarik ku ke atas untuk
kembali menusukkan kemaluannya pada memeknya.Tangan bu Putu kini tak ragu untuk
menggenggam dan meraih ****** ku untuk dituntunnya ke arah lubang memeknya.
Dan.bu Putu merasakan betapa nikmat saat kepala ****** Pak Daud mulai menguak gerbang memeknya. Dia meng-‘egos’kan pantatnya untuk lebih mendesak dan melincirkannya. Kemudian.. Blleezz.. Blezz.. Blezz.. Senti demi senti..
Pelann.. Putu merasakan batang gede penuh otot milik ‘suaminya’ itu meretas masuk
menembusi dinding peka memeknya dan memecahkan keperawanannya. Dorongan pelan-pelan Pa Daud pada kontolnya untuk menembusi memeknya sungguh menjadi sensasi nikmat yang tak terpana. Dia merasakan betapa setiap saraf pekanya berinteraksi dengan kehadiran batang kemaluan ku itu.
Bu Putu hanya bisa mendesah sambil menutup matanya, merasakan mili demi mili dinding memeknya mencengkeram menahan gesekkan ****** ku. Air matanya keluar. Dalam badai nikmatnya Putu menangis sesenggukan..
Bu Putu tahu.. Puncak nikmat ini harus dia tebus dengan seluruh hidupnya. Dengan membiarkan kenikmatan ini melandanya berarti Putu harus rela melapas segala milik sebelumnya.
Tetapi memang, bu Putu sekarang bukan bu Putu beberapa jam yang lalu. Dia akan terbuka dan jujur pada siapapun demi kebahagiaan hidupnya. Bu Putu sekarang adalah buPutu yang sesungguhnya, bu Putu yang sejati. Bu Putu yang akan mengarungi sepenuh hidupnya sejalan dengan keyakinan yang di anutnya. Putu sekarang adalah ‘nyonya Pajang’
Tiba-tiba dia merasakan begitu ribuan nikmat sedang merambati tubuhnya. Dari segala arah tubuhnya menggelinjang menerima rambatan nikmat itu. Dia rasakan ada semacam desakkan yang menjebol saraf-saraf birahi dari dalam memeknya. Sesuatu yang tak bisa dihindarinya. Dia tahu orgasmenya akan meledak. Dan kini perasaan nikmat yang tak terhingga membawanya terbang ke awang-awang. Terbang itu semakin tinggi dan semakin tinggi sejalan dengan pompaan ****** ku ke dalam kemaluannya. Kini yang dirasakan adalah kelimbungan yang sangat tak terkira.
Dia gemetar hebat. Tangan-tangannya merasakan perlu memegang sesuatu. Jari-jarinya
meraba-raba dan mendapatkan tepian seprei kasurnya.Dia langsung meremasinya. Dia seakan ingin mencabik-cabiknya. Dia kini mulai memasuki keadaan trance. Keringatnya nampak mengucur dari dahinya. Nikmat syahwat yang melandanya mengantar kesadaran bu Putu melambung dalam orbit birahinya. Dia akan merobeki apapun yang dijamahnya. Daann.. Akhirnyaa..
Bu Putu seakan tak mampu menerima kenyataan nikmat itu.Dia hentakkan kepalanya ke depan dan ke belakang kemudian juga ke kanan dan ke kiri. Dia seperti bergeleng atau mengangguk dengan cepat hingga rambutnya terlempar ke sana-sini. Itulah saat orgasme Putu saat turun melandanya. Dada ku merah karena luka cakaran Putu. Tapi dia mampu
mengabaikannya. Dia sungguh terpana dengan apa yang disaksikannya. Nafsu birahi Putu
seakan ludas tertumpahkan. Dia menyaksikan perempuan yang maksimal dan tanpa hambatan meraih orgasmenya. Dan karena itu pula nafsu syahwat ku terdongkrak. Dia juga mencapai orgasmenya. Ejakulasinya menyertai orgasme istrinya.
Dari kemaluannya yang kencang dan menyemprot kuat telah ditumpakannya sperma yang berlimpah-limpah hingga menggenang membasahi sprei.Sperma ternyata harum dan wangi bagi haribaan diri Putu. Dalam keadaan menuntaskan orgasmenya
Bu Putu meraup tumpahan sperma suaminya untuk dia lulurkan ke wajahnya, lehernya dan dadanya dengan sepenuh hasrat birahinya.Dia mengendusi aromanya. Bu Putu mendapatkan perasaan damai di sana.
Aku kagum atas apa yang dilihatnya. Dia melihat kepasrahan buPutu sebagai istrinya telah total diberikan untuk memenuhi kepuasan nafkah batinnya.Dia merasakan ada getaran rasa cinta abadi merambat dalam hatinya.
Sampai pagi itu mereka benar-benar tidak keluar kamar.
Bu.Putu sendiri selalu menampakkan wajah segar dan ayunya
Dia selalu menyediakan setiap kebutuhansuaminya
BuPutu bersama Aku memenuhi harinya dengan sepenuhnya memadu cinta berasyik
masyuk.Mereka melakukan hubungan suami istri di manapun. Dari ranjang turun ke karpet. Dari karpet pindah ke sofa. Dari sofa pindah lagi ke tepian bak mandi. Bahkan dengan duduk di atas kloset aku juga memangku Putu yang begitu menikmati kemaluannya dengan cara duduk dan melakukan gerakan memompa di pangkuannya.
Segala cara dangaya mereka lakukan untuk memetik nikmat syahwat. Tak ada satu titikpun di tubuh Putu yang tidak tersapu lidahnya.Dan Putu sendiri menerima sensai nikmat yang tak terucapkan saat aku menciumi pantatnya dan menjilati lubang duburnya.Bagi Putu apa yang ku lakukan itu menjadi pertanda betapa dia mau melakukan apapun demi cintanya pada bu Putu.

Setelah sebulan pak Daud pulang dari Jawa dan membawa oleh-oleh dari Jawa berupa 10 orang wanita penghibur Salah seorang menarik perhatianku yaitu seorang ibu muda yang bernama Lisa. Ibu muda ini lain dari pada yang lain karena selain cantik , kulitnya putih juga tampaknya terpelajar dan orang berpunya lain dengan 9 perempuan lainnya yang terlihat tidak begitu educated. Bahkan bu Putu pun terlihat kalah auranya. Lisa rupanya seorang bangsawan yang dijual oleh Rudi suaminya yang juga bangsawan tetapi terlibat hutang judi. Setelah pak Daud pulang bu Putu melayani 2 orang suami, Malam tetap tidur dengan suaminya pak Daud, hanya kalau butuh berhubungan sex dia kekamarku. Jadi hubungan kami sudah tidak bebas lagi Melihat hal ini mereka berdua menyarankan mengambil Lisa sebagai pengganti bu Putu. Aku nafsu sekali melihat tubuh Lisa.

Pertama kali datang Lisa cukup jual mahal melihat kondisi daerah yang didatanginya ia sangat syok melihat keadaan disana

Lisa juga sangat enggan untuk menjadi wanita penghibur maka dengan ancaman dia mau melayaniku.

Malam itu Lisa sangat gelisah, yang ada di pikirannya karena ia jauh di hutan dijual suaminya. Matanya sembab karena sedih. Lalu aku mendekatinya.

“O… ya, Bu… nama Ibu siapa?” sambil mengulurkan tanganku kepadanya
“Lisa, Pak…” Lisa mengulurkan tangannya juga.

“Nama yang cantik sekali… Secantik orangnya…” puji pria itu spontan. Lisa pun tersipu…

Aku lalu menyebutkan namaku.

“Pajang Nama saya Pajang,” terang si pria sambil menggenggam tangan halus Lisa. Ia merasakan kehalusan jemari dan kehangatan tangan Lisa. Lalu ia lepaskan.

Malam pun menjelang dan hujan turun dengan derasnya. Rupanya inilah pertama kalinya hujan turun setelah musim kemarau yang kering selama berbulan-bulan. Hujan pun turun tak tanggung-tanggung. Benar-benar lebat diiringi suara guntur yang bersahut-sahutan… Seakan menandai suatu peristiwa besar yang akan terjadi malam itu….

Aku mengundang Lisa dialah salah satu kamar di rumah kosong sewaan pak Daud yang tak pernah terpakai. Kamar dan ranjang tidak terawat dan kotor.Hal ini kusengaja agar dapat menaklukkan Lisa luar dalam dan memberikan kesan hidup dihutan dan alam liar jauh berbeda dengan kehidupannya yang dulu. Lisa terpaksa karena tidak ada tempat lain yang ada. Sesampai dirumah Lisa pun masuk kamar. Sambil memperhatikan, Akupun mengunci pintu rumah lalu menyembunyikannya kuncinya.

Ia memperhatikan langkah Lisa menuju kamar. Aku akan segera menyusul untuk melaksanakan niatnya.

Saat Lisa melepaskan kaos dan kacamata minusnya, aku masuk dan menutup pintu lalu menguncinya. Tubuh Lisa saat itu masih terbalut bra dan celana dalam.

Lisa kaget bercampur marah.

“Ada apa, Pak? Saya kan masih ganti pakaian…?” katanya dengan nada meninggi.

“Tenang sajalah, Bu… Aku hanya ingin melihat keindahan tubuh Ibu dari dekat… Soalnya jarang sekali aku melihat wanita secantik Ibu… Aku hanya ingin lihat…” kataku dengan berani.

“Pergi keluar, Pak… Jika tidak saya akan berteriak…” jawab Lisa sengit sambil menutup dengan kaosnya belahan payudaranya yang menonjol dari sela-sela bra.

“Ayolah… Bu.. Jangan marah begitu… Silakan berteriak sekerasnya… Tidak ada yang akan menolong Ibu di sini…” jawabku sambil mendekat ke arah Lisa. “Marilah kita sama-sama berbagi kehangatan di kedinginan malam ini…”

Lisa mundur dan terus berusaha memberi pengertian padaku. Keringat dinginnya muncul meskipun saat itu cuaca dingin dan hujan. Keringatnya keluar karena menyadari akan bahaya yang segera ia hadapi. Namun aku pun terus mendesak wanita itu ke arah ranjang kayu yang terletak di pojok kamar itu. Lisa terdesak di pinggir ranjang.

“Jangan… Pak.. Saya mohon!… Jangan sentuh saya….” Lisa memohon pada ku itu.

“Saya akan bertindak lembut…. jika Ibu tidak macam-macam dan menyulitkan saya!” jawab ku

Segala permohonan Lisa tidak digubris pria itu. Aku terus mendesak Lisa hingga berhasil ia rangkul.

Saat-saat yang menegangkan itu pun lalu berjalan sesuai rencana ku. Ia lalu meraih tangan Lisa dan membawa Lisa ke arah tubuhnya untuk dipeluknya. Lisa terpaksa menurut karena tak bisa melawan. Dalam pelukan ku itu, Lisa menangis karena bencana yang ia alami.

Lalu aku meraih dagu Lisa dan mengulum bibirnya yang kecil mungil. Lisa berusaha mengatupkan bibirnya agar tidak bisa kukulum. Namun segala upayanya sia-sia.

Aku mendekap tubuh Lisa begitu eratnya. Secara spontan, wanita itu pun berusaha melepaskan dirinya. Apa daya, rontaan tubuh Lisa di dalam pelukan ku itu malah menimbulkan kontak dan gesekan-gesekan dengan tubuh ku yang pada gilirannya malah semakin memberikan kenikmatan pada tubuhku dan menaikkan birahiku

Aku pun berhasil mengulum dan membelit lidah Lisa. Lisa pasrah dan berusaha melepaskan belitan lidah ku. Aku berhasil menghisap air ludah Lisa dan ia pun juga melepaskan ludahku ke dalam rongga mulut Lisa.

Lisa jijik dan terus berusaha melepaskan diri dari betotan tubuh ku. Ia harus tangan-tangan si pria yang terus berusaha memilin dan meremas payudaranya yang masih terbungkus bra itu. Namun apalah daya seorang wanita yang lemah di samping ia pun sudah lemah secara psikis karena suaminya menjual dirinya ditambah beban mental menghadapi upaya perkosaan terhadap dirinya.

Lisa hanya bisa menangis sesenggukan. Ia tidak rela diperkosa dan dicemari rahimnya oleh laki-laki lain. Ingin rasanya ia bunuh diri saat itu juga…. namun alam bawah sadarnya masih mengingatkannya untuk tidak melakukan hal tercela itu.

Masih dalam pelukan ku yang erat itu, akhirnya Lisa berhasil ditundukkan. Bra yang menutupi payudaranya ku buka paksa. Kedua bukit salju yang mulus itu pun tergantung indah di dada Lisa. Tangan-tangan kasarku yang penuh bulu itu berhasil menjamahnya. Dengan mulutnya, ia jilati dan gigiti putingnya. Lisa terlonjak sakit dan geli. Alam bawah sadarnya mulai menapaki rangsangan yang dihantarkan mulutku itu yang mulai menampakkan wujudnya.

Lalu Lisa kubaringkan di atas kasurnya yang lusuh itu. Sebelumnya ia telah berhasil melepaskan seluruh penutup dada Lisa dan mengacak-acak dada wanita itu yang dihiasi oleh kalung berlian dengan inisial “L”. Aku seakan tidak ingin kehilangan momen menentukan itu. Aku pun berusaha melepaskan celana jeans yang dikenakan Lisa.

Celana jeans yang dikenakan Lisa pun berhasil kulepaskan . Aku amat takjub dan terpana melihat batang paha Lisa yang jenjang dan putih mulus tanpa cacat itu terhidang di depan mataku. Celana dalam berwarna putih yang dikenakan Lisa saat itu membuatnya tambah bernafsu.

Aku menyeringai…. Ia mendapati celana yang dipakai Lisa telah basah di belahan kemaluannya. Basah itu bukan basah keringat… Aku tahu persis bibir kemaluan yang basah itu karena lendir yang keluar dari liang vagina Lisa karena adanya nafsu yang muncul dari tubuhnya.

Sejak itu, Aku benar-benar yakin kalau rencananya akan berjalan mulus dan lancar… Begal itu semakin merasa percaya diri… Ia yakin tubuh Lisa tak akan bisa berbohong terhadap rangsangan-rangsangan yang diberikannya… Tinggal sekarang aku harus bisa menguasai mental dan pikiran wanita itu sepenuhnya… sehingga tercapailah niatku untuk menikmati tubuh Lisa sepuasnya…

Lalu Aku menciumi celana yang basah di tengah kemaluan Lisa. Ada bau amis yang ia baui. Ia pun lalu melepaskannya. Wow…. itulah yang keluar dari mulutku.

Liang kemaluan Lisa masih rapi dan bulu-bulunya pun tertata indah meskipun saat itu amat lembab. Kemaluan Lisa tampak rapat dan belum ada celah yang longgar. Tidak seperti kemaluan pelacur-pelacur yang sering ia gauli selama ini, pikirku. Ditambah lagi aroma kemaluan Lisa terasa beda sekali dengan yang ia temui selama ini.

Lalu ia pun mendekatkan wajahnya dan menyapu liang itu dengan lidahnya yang panjang juga kasar. Lidahku mencari klitoris yang ada di sela liang itu. Ia lalu menciumi kemaluan Lisa sama seperti ia menciumi bibir Lisa tadi. Tidak ada rasa jijik di kepala ku.

Lisa masih terus menangis namun kini tubuhnya telah terbuka seluruhnya dan gairah yang dari tadi ia tahan akhirnya meledak juga. Aku mengetahui bahwa Lisa saat itu telah siap untuk dicampuri kemaluannya. Bagaimanapun upaya Lisa untuk menyembunyikan gairahnya tetap tidak membantunya.

Karena vagina dan klitorisnya secara intensif terus-menerus dijelajahi mulut dan lidah ku, Lisa akhirnya mengalami orgasme. Tubuhnya tak bisa menolak rangsangan- rangsangan fisik yang terus-menerus dilancarkan padanya. Kemaluannya mengeluarkan cairan yang cukup kental. Cairan itu lalu kutelan hingga tandas tak bersisa. Kemaluan Lisa pun akhirnya bersih oleh lidah ku.

Tubuh Lisa menjadi lemah tak bertenaga. Ia benar-benar letih akibat kejadian-kejadian yang baru saja ia alami. Peristiwa itu membuatnya kehilangan kontrol dan membuatnya cenderung menurut pasrah. Ia pun terkulai bugil di atas ranjang.

Aku merasa yakin kalau Lisa kini telah pasrah dan menyerah padanya. Tanpa ragu, aku pun membuka celanaku di depan wanita yang sedang terbaring lunglai. Segera, Lisa pun dapat melihat batang penisku itu yang menggelayut seperti belalai gajah yang hitam…. Ia tak dapat menyembunyikan keterkejutannya melihat alat kelamin yang sedemikian besarnya…….

Aku lalu menaiki ranjang kayu itu. Dengan kedua tanganku, kubuka kedua kaki Lisa sehingga terbuka mengangkang. Aku menempati posisi di tengah, di antara kedua kaki Lisa. Lalu Aku melucuti baju kaos kumal yang dikenakannya dan melemparkannya ke lantai. Kini Lisa bisa melihat dengan jelas tubuh Aku yang kekar,
Kini di atas ranjang dua tubuh telanjang berlainan jenis telah siap melakukan perkawinan… Yang wanita adalah seorang ibu rumah tangga muda yang terbaring tak berdaya setelah diculik… dengan tubuh yang langsing, kulit putih mulus dan wajah cantik rupawan… Sedangkan si pria di atasnya yang siap mengawininya adalah seorang lelaki dengan badan tegap dan berkulit

Perlahan-lahan, Aku lalu menaikkan kedua kaki Lisa yang masih mengangkang sehingga melingkari pinggulku. Lisa melihat kedua pahanya kini mengapit bagian perutku.

Kemudian Aku menggosok-gosokkan batang penisnya ke kemaluan Lisa… Lambat laun batang itu pun tumbuh semakin mengeras dan tegak…. Lisa pun kegelian merasakan kemaluan Aku yang tumbuh menyentuhi kemaluannya. Setelah penis Aku mengeras sepenuhnya dan siap dipakai, lalu kuarahkan kemaluanku yang panjang dan hitam Legam itu ke arah bibir kemaluan Lisa. Siap untuk dibenamkan ke dalamnya.

Bibir kemaluan Lisa masih rapat dan belum bisa menerima benda asing yang akan memasukinya saat itu. Lalu dengan jari tanganku Aku membuka bibir itu dan menyelipkannya di tengahnya. Merasa batang penisnya telah siap lalu aku pun mendorongnya hingga masuk ke dalam lubang kelamin ibu rumah tangga itu.

Saat penis Aku masuk menyeruduk ke dalam kemaluan Lisa dengan kerasnya, spontan wanita itu pun terbelalak matanya dan ternganga lebar mulutnya. Seberkas jeritan tertahan di tenggorokannya. Sebentar kemudian, ia pun meringis…. kedua matanya terpejam menahan nyeri dan sakit pada rahimnya. Tak terasa air matanya pun menetes…

“Aduuuh…….. Paak…!! Ampuuun…” jeritnya halus mengiba belas kasihan ku

Aku masih mendorong penisnya untuk masuk terus hingga dasar kemaluan Lisa. Lisa pun terus menangis dan air matanya menetes membasahi pipinya yang putih saat itu. Tubuhnya pun terguncang-guncang di bawah tubuh kekarku.

Mengetahui tangisan Lisa saat menerima penisnya masuk, Aku lalu memeluk Lisa dengan ketat dengan posisi tetap di atas tubuh putih Lisa. ku peluk Lisa dan kuciumi bibir Lisa seakan tidak ingin terpisahkan. Aku ingin bibir mereka juga menyatu sama seperti bagian bawah tubuh mereka yang telah dempet menyatu saat itu.

Rasa sakit dan perih di tubuh Lisa diungkapkannya dengan menekan bahuku yang kekar dengan kukunya yang runcing. Ia terus sesenggukan dan membenamkan kukunya di bahu bidang itu.

Bahkan respons yang kudapati saat menyetubuhi Lisa benar-benar membuatku merasa nikmat. Aku tahu Lisa adalah istri orang… tapi menyetubuhinya sama seperti memperawani seorang gadis yang lugu dan belum berpengalaman….

Aku tetap mendiamkan penisnya yang panjang dan besar itu di dalam kemaluan Lisa. Ia ingin mereguk kehangatan tubuh istri orang itu dengan sempurna. Khususnya kehangatan yang berasal dari jepitan kewanitaan ibu rumah tangga itu. Apalagi dinding- dinding kemaluan Lisa terasa berdenyut-denyut… memijati penisku yang keras…. Aku pun menikmati semua itu sambil terus mengulum bibir Lisa dan menjilati bagian belakang telinganya yang basah oleh keringat.

Rambut Lisa yang sebahu pun telah basah seolah turut menangisi keadaan Lisa saat itu. Dari tengkuk Lisa jilatannya terus berpindah kearah bahu yang putih bersih hingga menampakkan aliran merah darah dari urat-urat Lisa. Nafsu Aku terus terpacu karena wangi tubuh Lisa yang juga masih tercium aroma Channel numero 5 yang telah bercampur dengan keringatnya saat itu.

Setelah puas di bahu, lalu aku turun ke arah payudara Lisa yang bernomer 34B itu. Di payudara Lisa mulut ku terus bermain-main dengan puting dan belahan susu itu. Jejak cupangan merah mulai banyak menghiasi kedua payudara yang putih dan mulus itu…

Aku telah membuat Lisa seakan lupa daratan. Lisa terus memejamkan matanya tidak ingin melihat kelakuan pria asing yang baru dikenalnya itu di atas tubuhnya.

Cengkeraman Lisa pada bahu Aku akhirnya melemah. Ia telah orgasme untuk yang kedua kalinya. Hanya saja ia berusaha keras untuk tak menampakkannya karena malu…

Lalu Aku bergerak maju mundur dan terus menghujamkan kemaluannya ke dalam liang Lisa. Sedang kedua tangannya memegangi pinggang Lisa agar tetap di tempatnya. Lisa sebenarnya menikmati genjotan ku itu… Bagaimanapun ia belum berani menunjukkannya sehingga ia pun memejamkan kedua matanya. Sementara kedua tangannya tergeletak ke samping sambil meremas-remas seprei kumal yang sudah tak jelas warnanya itu.

Saat itu yang terdengar hanya dengus nafas dan erangan kedua makhluk yang sedang kawin itu.

Setelah beberapa lama perkawinan itu berlangsung… akhirnya aku itu pun melepaskan spermanya dengan gerakan begitu cepat dan hunjaman yang keras ke dalam kemaluan Lisa. Sambil melenguh-lenguh dengan suara berat, aku terus menekannya seolah ingin menuntaskan dendam birahiku ke dalam tubuh Lisa dengan kasar. Spermanya keluar sangat banyak hingga tak tertampung oleh liang Lisa. Rembesannya keluar membasahi sprei kasur itu.

Di saat yang bersamaan, rupanya Lisa pun kembali mengalami orgasme… Kali ini tubuhnya menggelinjang hebat tak terkendali… Erangan panjang terlontar dari mulutnya… Dalam hati Lisa sedikit terkejut dan malu… Ia tak mengira akan sedemikian eksplisitnya orgasmenya nampak tanpa bisa disembunyikannya sama sekali… Ditambah lagi kenyataan bahwa mereka mengalami orgasme secara bersamaan…

Sementara Aku yang mengetahuinya, segera mendekap tubuh wanita itu seerat- eratnya… Pinggulnya terus mendorong-dorong kemaluannya seakan ingin mendekam dan bersarang di kemaluan Lisa… Seakan ingin memompakan sisa-sisa sperma yang masih ada ke dalam rahim wanita itu… dan menandai Lisa sebagai milik pribadiku….

Lalu kuciumiseluruh wajah Lisa… dikulumnya dalam-dalam mulut wanita itu… seolah ingin menghargai apa yang telah mereka lalui bersama di ranjang itu… Lisa yang sudah kecapaian tak kuasa menolaknya… Baru kali ini ia mengalami perasaan sepenuhnya dimiliki dan dikuasai oleh seorang lelaki…

Sampai akhirnya gerakan kedua tubuh yang sama-sama telanjang itu pun mengendor…. Aku masih menindihi tubuh Lisa yang telanjang. Selama beberapa menit kami terpaku dalam posisi seperti itu… sampai penisku yang telah lemas keluar dengan sendirinya dari kemaluan Lisa…

Setelah itu, karena capai aku bergeser ke sebelah Lisa dan tertidur. Ada gurat kepuasan di wajahku Aku telah berhasil menunaikan hasratnya yang ia dambakan pada Lisa. Ia pun tertidur pulas.

Sementara itu, Lisa yang telah pulih kembali pikiran dan akal sehatnya yang sebelumnya tertutup oleh hawa nafsu hanya bisa menangis… Ia merasa berdosa telah bersetubuh dengan pria lain yang tidak dikenal… Ia merasa dirinya kotor… tak ada bedanya seperti pelacur-pelacur…

Masih dengan tetesan air mata di pipi, Lisa lalu bangun dari ranjang kayu itu dan mengenakan kembali seluruh pakaiannya yang berserakan di lantai kamar.

Sebenarnya ia ingin mandi membersihkan seluruh tubuhnya dari sperma dan keringatku Tapi sayang rumah itu tak memiliki kamar mandi sendiri. Ia merasa telah amat kotor saat itu… Apa daya, kepada siapa ia bisa mengadu. Semuanya telah terjadi. Tak mungkin ia dapat membalik waktu…

Lisa pun berjalan ke arah pakaianku berusaha mencari kunci kamar agar bisa keluar namun tidak ditemukannya.

Karena kecapaian setelah pergumulan laknat tadi ditambah masalah suaminya yang menjualnya, Lisa pun akhirnya hanya bisa terduduk jongkok di sudut kamar. Ia pun terlelap. Namun saat ia baru saja terlelap, tiba-tiba aku bangun dan menarik Lisa agar tidur di sampingku di atas ranjang kayu itu.

Lisa terpaksa menurut karena ia tidak dapat lagi melawan. Lalu ia berbaring di sampingku yang masih bugil hingga malam menjelang.

Sesekali di atas ranjang saat mereka tidur berdampingan, tanganku meremas payudara Lisa yang telah tertutup bra dan kaos yang dikenakannya. Lisa pun selalu melepaskan tanganku yang gatal itu. Bagaimanapun intimnya hubungan yang telah mereka lalui bersama-sama pada malam itu, Lisa tetap merasa dirinya sebagai istri Rudi yang sah walaupun telah menjualnya.. Aku tak lain sekedar memaksanya dan memperbudaknya untuk melayani nafsu birahinya…

Tak lama kemudian, kami berdua pun tertidur saking lelahnya.

Tengah malam Lisa terjaga. Ia merasa mendengar suara2 yang asing

Ia pun duduk dan membangunkanku di sampingnya yang saat itu masih bertelanjang. Akupun bangun.

“Ada apa Lisa”? tanyaku.

“Aku mendengar suara-suara orang di luar memanggil-manggil namaku,” jawab Lisa.

Mendengar perkataan Lisa saat itu, Aku mengenakan celana pendeknya dan masih bertelanjang dada.

“Coba kulihat keluar,” katanya.

Lalu mereka keluar rumah. Hujan masih turun dengan derasnya. Suara yang didengar Lisa itupun tidak ada lagi.

“Nah, tidak ada bukan?” sahutku itu.

“Rumah ini letaknya jauh dari perkampungan penduduk, Lisa… Di sekeliling sini masih hutan lebat…”

Mereka pun kembali ke dalam rumah Aku yang memang tidak memiliki penerangan listrik. Lisa diam memperhatikan tingkah lakuku.

“Waduh…” kataku sambil memegangi perutnya. “Aku lapar sekali… Kau juga lapar, Lisa?”

Spontan Lisa mengangguk.

Memang pastilah perut mereka lapar karena kegiatan mereka yang sangat panas tadi di ranjang telah menghabiskan banyak energi. Lisa pun jelas sangat lapar karena makanan yang terakhir masuk ke dalam perutnya adalah sarapan pada pagi harinya.

“Dilemari mungkin ada makanan, Pak… terang Lisa.

“Aaa.. bagus lah itu… Kalau begitu ayo kita ambil,” sahutku itu.

“O, ya. Satu hal lagi… Jangan panggil aku ‘Pak’… Panggil saja Pajang, ya? Semua wanita yang sudah kutiduri boleh memanggil namaku saja…”

Aku kemudian mengambil makanan yang ada dilemari dengan Lisa.kurangkulnya pundak wanita itu seolah mereka sepasang kekasih…

Aku melepaskan rangkulannya saat ia mengangkuti makanan dari lemaril.
Mereka pun balik ke dalam kamar Dan makanan itu mereka habiskan tanpa sisa.

Karena waktu masih malam dan hujan turun dengan derasnya, setelah makan. Lisa merasa badannya masih pegal dan capai. Ia ingin beristirahat dan dapat tidur dengan nyenyak malam itu.

Kami naik ke ranjang kayu itu. Ternyata, di atas ranjang, kejahilanku mulai muncul lagi. Rupanya makanan telah mampu membantuku memulihkan tenaganya kembali… Aku pun berusaha kembali merangsang Lisa untuk bersebadan lagi.

“Sudahlah, Mas Pajang… Saya capek…” kata Lisa mencoba mencegah.

“Lisa, dingin-dingin begini aku tak bisa tidur,” jawabku.

Tanpa banyak bicara lagi, Aku pun melepaskan celanaku. Walaupun masih merasa agak rikuh karena belum terbiasa melihat lelaki telanjang selain suaminya, Lisa mencuri- curi pandang juga ke arah penisku yang menggelantung di selangkanganku. Dalam hati sebenarnya Lisa kagum juga melihat belalai yang panjang itu. Masih terbayang jelas dalam ingatannya bagaimana monster itu memasuki tubuhnya dan membuatnya orgasme berkali-kali…

Setelah Aku bugil, tanpa minta persetujuan Lisa, kulucuti juga busana wanita itu sehingga mereka pun sama-sama telanjang kembali. Lisa tak mampu menolaknya lagi…

“Dingin…” desah Lisa sambil melipat kedua tangan menutupi dadanya… Hujan memang masih turun dengan lebatnya di luar sana. Bahkan semakin deras diiringi guntur yang meledak-ledak.

“Jangan khawatir, Lisa… Sebentar lagi juga panas…” kataku tersenyum sambil menatap mata Lisa dengan penuh arti. Dibukanya lipatan tangan Lisa karena Aku ingin menikmati dan merabai keindahan kedua payudara wanita itu. Lisa membiarkan saja Akumemulai aksinya dan menikmati rangsangan yang diberikan padanya…

Aku dalam waktu singkat telah berhasil membuat Lisa tidak berdaya menolak apa pun yang dimintanya. Seakan wanita itu telah berada sepenuhnya dalam kekuasaannya… Begitu pula ketika ia meminta pada istri Rudi itu untuk mengisap penisnya dengan mulutnya.

“Apaa…?” tanya Lisa terkejut. Mulutnya menganga. Matanya menatapku seakan tak percaya dengan permintaanku itu terhadap dirinya. Bagaimana bisa ia meminta hal seperti itu kepada seorang wanita yang baru dikenalnya? Ya, aku memang baru saja menyetubuhinya… tapi meminta ia mengisap penisnya…? Lisa membayangkan pastilah aku itu menganggap dan memperlakukannya sama seperti ratusan pelacur yang pernah kutiduri…

“Saya gak bisa… Maaf… Gak mungkin…” kata Lisa menggelengkan kepalanya sambil tertawa salah tingkah.

“Jangan khawatir, Lisa… Nanti akan kuajari,” kata Aku menenangkan Lisa yang mukanya tampak kecut.

“Ayo… tak apa-apa… Aku benar-benar ingin kau melakukannya untukku…”

Lisa tampak ragu-ragu tapi ia pun tak berbicara lagi. Aku mengerti kalau ia harus segera melakukannya. Yang diperlukan Lisa adalah bimbingan. Maka tanpa minta persetujuan Lisa lagi, aku pun mendekatkan pangkal pahaku ke wajah ibu rumah tangga yang sedang menunggu itu.

Lisa lalu kuiajari untuk melakukan seks oral. Wanita itu awalnya merasa canggung dan ragu. Dirasakannya juga cairan vaginanya ada di sana, menyelimuti batang yang keras itu… Semuanya itu terasa lengket di dalam mulutnya saat bercampur dengan air ludahnya.

Setelah membiasakan diri, akhirnya Lisa bisa juga melakukannya dengan panduanku. Apalagi aku itu terus-menerus memujinya sambil membelai-belai kepalanya sehingga meningkatkan rasa percaya diri ibu rumah tangga itu…

Penisku yang semula tertutup lapisan kering air mani, dan cairan vagina Lisa sedikit demi sedikit mulai bersih dijilati istri Rudi itu. Tinggal kini batang hitam yang mengeras itu berkilauan disapu air liur Lisa…

Aku merasa sangat puas dengan layanan Lisa… Sebagai imbalannya, wanita itu pun menerima semprotan spermaku itu di mulutnya.

Spontan air maniku yang kental itu pun tertelan olehnya. Walaupun menyadari bahwa itu adalah konsekuensi dari seks oral, Lisa tetap sempat terkejut saat menerima siraman spermaku itu di dalam mulutnya… Bagaimanapun itu adalah pertama kalinya ia melakukan itu….

Untunglah Lisa cepat menguasai dirinya sehingga tidak sampai memuntahkan kembali air mani yang sudah terkumpul di dalam mulutnya… Sedikit demi sedikit ditelannya cairan kental itu supaya tidak tersedak… Aku memperhatikan usaha Lisa sambil tersenyum puas…

Aku lalu membersihkan bibir Lisa yang belepotan sperma dengan kain sprei yang kumal.

Dari seks oral itu, untuk kedua kalinya malam itu Lisa dan aku melakukan hubungan badan. Sebelumnya, terlebih dahulu Lisa membantu membangkitkan kembali penis Aku dengan tangan dan mulutnya…

Kali ini permainan menjadi amat bergairah. Lisa sudah mulai terbiasa menerima sodokan penisku di kemaluannya. Kali ini keduanya sudah seperti pasangan yang serasi… sudah seirama dan saling beradaptasi dalam persetubuhan itu… Lisa pun tak melakukan perlawanan sama sekali terhadap Aku. Dibiarkannya aku membimbingnya mendaki puncak kenikmatan bersama…

Malam itu akhirnya kedua makhluk yang berlainan jenis dan status itu menyatu kembali dalam kesatuan ragawi. Bersatu padu dalam perkawinan yang panas dan bergairah… Tak ada lagi batas di antara mereka.

Lisa yang memang wanita baik-baik dan terpelajar serta masih berstatus sebagai bekas istri orang, kadang masih berusaha membuat kesan ia tidak begitu menikmati persetubuhan itu. Namun yang sebenarnya terjadi, Lisa benar-benar menikmatinya. Kemaluannya pun menerima banyak lelehan air mani ku tersebut.

Kenikmatan badani yang diterimanya dariku sedikit demi sedikit membantu pikiran Lisa terbuka terhadap kemungkinan bahwa Rudi suaminya memang tidak menginginkannya lagi sehingga menjualnya Pikiran itu pula yang membuat Lisa pelan-pelan mulai merasa rileks menjalin hubungan intim bersamaku .

Bahkan Lisa mulai terbuka pula terhadap kemungkinan bahwa Aku adalah takdirnya… Jodohnya yang berikutnya setelah ia terpisahkan dengan Rudi… Ia seperti mendapatkan sosok lelaki sejati pada figurku. Profil Aku perkasa membawa pesona tersendiri di matanya… Pemikiran-pemikiran itulah yang membantu Lisa secara sadar semakin membiarkan jiwa dan raganya bersatu denganku…. Apalagi bimbingan Aku semakin memudahkannya…

Sementara Aku sendiri tentu saja amat menikmati hubungan seks dengan Lisa… Bersebadan dengan Lisa ibarat mimpi yang menjadi kenyataan bagiku… Aku merasakan perbedaan yang mencolok dibandingkan dengan semua wanita yang kukenal selama ini bahkan bu Putu sekalipun. Ini membuatku jadi ketagihan…

Yang kuinginkan saat ini adalah menikmati Lisa sepuas-puasnya. Setelah itu, siapa tahu ia pun bisa mendapatkan keturunan darinya

“Oouuuuuuh…” jerit Lisa menikmati orgasmenya yang bertubi-tubi dan memabukkan… Rintihan dan ekspresi wajahnya yang erotis membuyarkan semua angan yang berkecamuk di kepala Aku.

“Lisaaaaa…… Hhhggggh….” lenguh Aku melepaskan semua sperma yang kutahan dari tadi ke dalam rahim istri Rudi sebagai balasannya.

Kemudian hening. Hanya degupan jantung keduanya yang terasa bergejolak di dada mereka yang saling menempel.

Aku dan gundik baruku menyatu bugil di atas ranjang. Keduanya berpelukan erat. Aku di atas Lisa. Kaki Lisa yang mengapit pinggulku menekan pantatku supaya tetap di tempatnya. Mereka pun berciuman dengan syahdu. Menikmati setiap detik keintiman kami.

Aku mempunyai sahabat semasa kuliah yang bernama Wayan. Aku telah kehilangan kontak dengannya sudah lama sekali. Bulan lalu aku dihubungi oleh dia bahwa dia diutus oleh perusahaannya dinas di Samarinda selama 1 tahun. Wayan menelponku agar dapat bertemu denganku karena sudah kangen, dia kuundang ke Badak untuk bertemu. Sesampai diBadak kami puas mengobrol dan hampir tiap bulan dia ke Badak. Suatu hari dia mengeluh bahwa dia butuh wanita untuk pelampiasan sex karena dia sendirian saja sewaktu bertugas tidak membawa keluarga. Istrinya tidak dapat ikut pindah karena harus tetap mengajar demikian juga anak-anaknya tidak bisa pindah sekolah. Sewaktu kutawarkan WTSku dia nggak mau karena takut ketularan penyakit akhirnya kutawarkan Lisa sebagai penuntas nafsunya. Dia sangat berterimakasih atas bantuanku itu. Hal ini juga sepengetahuan istrinya dan istrinya rela dia main dengan Lisa bahkan bu Wayan menawarkan dirinya untuk menemaniku bila aku ke Surabaya.. Setelah 4 bulan berlangsung aku harus pergi ke Surabaya untuk mencari wanita sebagai stock baru. Wayan mengontak istrinya untuk menjemputku di pelabuhan. Sesampai di pelabuhan aku dijemput oleh seorang wanita setengah baya. Wajahnya bulat telur dengan kulit putih bersih ,tinggi nya sekitar 170 cm berbadan ramping dan pinggul serta buah dadanya besar. Aku diajak kemobilnya dan langsung diajak kerumahnya yang agak keluar kota.
Sesampainya dirumahnya yang luas dan rapi. Aku diperkenalkan dengan kedua anaknya. Dirumah itu hanya ditempati 4 orang perempuan yaitu Bu Made kedua anaknya serta seorang pembantu yang sudah lanjut usianya. Aku ditawarin mandi dikamar tidur utama dan aku diberi sarung serta oblong kepunyaan suaminya., Kulihat suasana tempat tidur serta kamar tidurnya rapi dan wangi seperti kamar pengantin. Setelah mandi kami makan bersama dengan anak-anaknya, setelah itu oleh ibunya mereka disuruh kekamar masing-masing. Sedangkan aku disuruh menunggu diruang tamu sedangkan bu Wayan kekamar tidur utama untuk membersihkan dirinya serta berdandan untuk bersiap melayaniku. Aku dipanggil masuk kekamar setelah bu Wayan selesai bersiap-siap. Sewaktu dikamar kudapati bu Wayan duduk ditempat tidur dengan daster yang cukup tipis sehingga tampak liku-liku yang sangat menggairahkan. Burungku didalam sarung langsung berdiri tegak melihatnya Kuhampiri dirinya dan aku duduk disampingnya. Kupegang tangannya yang lembut kuelus pelan-pelan, kulihat bu Wayan menutup matanya penuh kepasrahan. Aku menjadi tidak enak hati melihat kepasrahannya, kujelaskan aku bukannya mau barter antara Lisa dengan dirinya tetapi aku hanya membantu teman saja. Kujelaskan apabila dirinya tidak rela akupun tidak keberatan. Kulihat air matanya menitik dan tubuhku dipeluknya erat-erat dan dia berbisik menceritakan bahwa dia cukup berat ditinggal suaminya keluar pulau dan mengurus keluarganya sendirian. Dia juga menceritakan godaan dari teman maupun maupun mahasiswanya karena mereka tahu dia kesepian. Tetapi bu Wayan tidak mau melayani mereka karena takut kena penyakit dan terjadi skandal. Karena itu kedatanganku diharapkan dapat menyirami sawahnya yang lama kering serta juga telah disetujui oleh keluarganya. Rupanya bu Wayan merupakan wanita dengan libido yang cukup tinggi. Setelah mendengar penjelasannya rangkulannya kuperketat, mukanya yang sama tinggi dengan mukaku dengan mulut yang setengah terbuka seakan-akan kehausan. Perlahan kukecup bibirnya yang terbuka itu kamimun bertukar air liur bau nafasnya yang wangi menyeruak kedalam mulutku matanya mulai layu menikmati ciuman itu

kujilati kupingnya, terus menjilati lehernya kembali lagi kekuping terus menerus, bu Wayan hanya diam terpaku, akhirnya dia mendesis lirih.
Dan seperti kehilangan kontrol diapun membalas menjilati kupingku. Napasnya mulai terengah engah tanda napsunya mulai naik. tangan kiriku ku taruh ke pahanya. dan mulai mengelusi pahanya kemudian menaikkan elusannya ke perutnya perutnya yang kecil kemudian ke dadanya tanganku mulai meremas buah dada yang indah sekali
Aku mulai mencium buah dada Bu Wayan hingga dia mengerang, aku kulum pentilnya
yang masih kecil (mungkin dulu dia enggak nyusuin anaknya) warnanya kemerahan.itu
Didalam kamar terdapat meja rias dengan kaca yang besar Aku nikmati tubuh indah melalui kaca, aku rasakan kehangatan nafas Bu Wayan, aku hirup wangi tubuhnya wangi wanita yang minta dipuaskan syahwatnya. Bu Wayan kelihatan malu waktu melihat dirinya di kaca, dia alihkan pandangan ketempat lain. Aku sengaja lama-lamain kemesraan ini, Ibu Wayan pasrah tapi enggak mau pro-aktif, mungkin masih malu, dia biarkan aku berbuat apa saja menggerayangi lekuk-liku tubuhnya dan kemudian melucuti short dan sekaligus CD nya kaki yang indah, paha yang berisi.Aku renggangkan pelukan dan pandang tubuh indah Bu Wayan, dia malu.
“Mas, jangan dilihat gitu ach”, sambil dia merebahkan badannnya ke aku.
Aku peluk dia, aku cium dan aku balikkan kearah kaca.
“Mas, malu ah Mas”, kata Bu Wayan waktu melihat tubuhnya telanjang bulat di kaca.
Tapi aku perkuat rangkulanku sambil meremas buah dadanya, aku cium lehernya dan tanganku yang lain meraba-raba pusat kewanitaannya yang berambut tipis tanganku kuat memegang pahanya aku buka selangkangannya, aku telusuri vaginanya yang kenyal aku elus belahannya.
“Mas. udah Mas.”, kata Bu Wayan dan memang aku merasakan cairan hangat keluar dari vaginanya.
“Aku keluar Mas”.
Dia mulai gemetar, lalu aku rebahkan dia ke ranjang besar. dan lagi aku raba-raba vaginanya. aku elus itilnya. aku lihat merah sekali. Bu Wayan cepat-cepat menutupinya, tapi aku angkat lagi tangannya karena aku mau menikmati pemandangan ‘apem Bali belah tengah’ yang gurih ini.Aku sengaja enggak mau ngoral dia, aku sentuhkan jariku pelan-pelan ke itilnya. Bibir kemaluan Bu Wayan semakin basah. Aku enggak tahan lagi, aku lepas sarung dan cdku aku naik ke atas dan aku arahkan kejantananku yang ngaceng keras itu kelubang kemaluan Bu Wayan aku tekan sekali dua kali belum masuk, akhirnya tangan Wayan membantu mengarahkan ke lubang kemaluannya yang sempit sekali, dan akhirnya BLees kepala kejantananku menembus kemaluan Bu Wayan yang rapet, sesak rasanya. Aku maklum vagina Bu Wayan udah lama enggak kemasukan kejantanan jadi kaget tapi senang sekali apalagi tadi aku bilang kepala kejantananku memang besar Aku sadar siapa yang aku setubuhi, maka aku beraksi gentleman cara halus aku pakai aku tusuk pelan tapi mantap ada mungkin 5 menit ketika Bu Wayan berbisik”Mas cape ya? Biar aku yang kerja”. Bu Wayan ambil alih kendali senggama, dia goyangkan pantatnya enggak terlalu cepat, tapi dia kerja dengan tenaga dalamnya otot-otot vaginanya mencengkeram erat kejantananku memiji-mijit batang kemaluanku, aku betul-betul keenakan, jarang sekali perempuan bisa empot-empot ayam seperti Bu Wayan. Bu Putu, Lisa pernah coba, tapi enggak lagi Aku enggak perlu keluar banyak energi menyetubuhi Bu Wayan, aku naik turunkan kejantananku pelan-pelan dan dalam-dalam di lubang senggama Bu Wayan, sementara empot-empot vaginanya terus mengurut-urut batang kejantananku sedangkan mulutku menyedot buah dada putih besar bagai hidangan yang harus dinikmati, tangan Bu Wayan memelukku erat, tangan kananku meremas bokong dia dan angan kiriku menahan berat badanku. shhssh, sshh. desis Bu Wayan terus menerus ada sekitar 10 menit, lalu Bu Wayan mengerang”Maas, aku keluar lagi Maas.”.
Aku cium keningnya, bukannya Bu Wayan melemah tapi dia pindahkan kedua tanganku dikiri kanan mepet buah dadanya dan tangan dia dua-duanya memegang sandaran ranjang Bu Wayan keluarkan tenaga dalam lebih hebat lagi pantat memutar teratur sekali lebih keras dan, empot-empot-empot-empot vagina Bu Wayan lebih sering dan lebih kencang memijat-mijat kejantananku.
“Maas. aduuh.”, Bu Wayan orgasme lagi, tapi pantatnya terus berputar dan empot-empotnya enggak berhenti berhenti.
Kejantananku dengan kuat aku gosokkan kekiri-kanan bibir vaginanya, aku senggol-senggolkan ke itil Bu Dian sementara aku senang sekali pandangin wajah Bu Wayan yang merem melek, mulut terbuka agak lebar aku jawab haus gairah Bu Dian dengan tusukan-tusukanku kejantananku, aku penuhin dahaga syahwati Bu Wayan dengan sodokan-sodokan kemaluanku yang kuat, aku bikin Bu Wayan menggelinjang mengerang penuh nikmat birahi.
“Aah. aah. aahh.”, erangan erotis Bu Wayan yang semakin keras sampai akhirnya aku tumpahkan air maniku dalam-dalam ke vagina Bu Wayan.
“Mas. Maas. Maas.”, jerit kecil Bu Wayan sambil kakinya mancal-mancal dan dia tarik aku, dia gigit leherku.
Cairan kelaki-lakianku banyak masuk ke vagina Bu Wayan, pejuh kental hangatku memenuhi hasrat terpendam kewanitaan Bu Wayan, dia puas Agak lama aku masih benamkan kejantananku di vagina Bu Wayan, aku enggak mau lepaskan keajaiban bersenggama dengan Bu Wayan, begitu juga Wayan masih menjepitkan vaginanya kekejantananku dengan merapatkan pahanya. Kami berdua diam, tersenyum penuh makna, kemudian Wayan meneteskan air mata.Aku hapus airmata itu dan aku berbaring disampingnya, aku belai dia.
Lama juga Bu Wayan diam menenangkan diri sebelum dia bangkit, mengecup bibirku dan bilang”Mas tiduran aja, ya”.
Dia masuk ke kamar mandi , dia bersihkan diri sekitar 5 menit dan ke ranjang lagi, membersihkan kejantananku dengan handuk kecil yang sudah dibasahin, mesra sekali dia perlakuan atau pelayanan dia, sesudah selesai, dia merangkul aku, aku cium keningnya, kami berbaring berpelukan.
“Mas, Mas Pajang betul jaga rahasia ya. Aku cuman percaya sama Mas Pajang dan mbak Lisa”.
“OK, sayang. You can trust me”, kataku sambil mempererat dekapanku.
Kami berdua telanjang berpelukan, buah dadanya menempel dadaku, kaki kiriku ditindih kaki kanannya, kaki kananku menindih kaki kirinya. pikiranku melayang-layang penuh kepuasan, janganlah kenikmatan ini berlalu “Ibu Wayan, wanita sempurna luar dalam, cantik, pinter, gesit, pakar di ranjang”, akhirnya aku tertidur.

Aku merasa hawa dingin menerpa tubuhku. Aku buka mata, waktu sekitar jam 3. 00, aku udah tidur selama 4 jam. Tubuh bugilku masih terbaring diranjang. Aku tengok Bu Wayan, tubuhnya yang mulus telanjang bulat juga masih tergeletak disampingku. Udah enggak berpelukan lagi seperti waktu mau tidur. Aku mau cium dia, tapi enggak jadi, aku punya pikiran lain.Aku bangun pelan-pelan, aku berdiri disamping ranjang dekat Bu Wayan. Aku amati tubuh molek Bu Wayan, rambut ikal, hidung mancung, bibir merah merekah, leher jenjang, buah dada indah sekali besar dan kencang, pentilnya kemerahan mendongak, perut tipis, pinggul serasi, pantat bulat padat, kaki panjang dengan paha mulus indah. gembulan daging cembung diatas selangkangan itu bukan main menantangnya, garis merah membelah, rambut tipis menghias, itilnya merah sebesar biji kacang tanah bukan berlebihan tapi kemaluan Bu Wayan masih seperti tempik anak umur 16 tahunan yang aku pernah tembus beberapa kali.

Nafas Bu Wayan teratur, posisi tangan diatas kepalanya dan pahanya terbuka lebar mengundang aku untuk menyetubuhinya. Darahku tersirap tapi aku masih mau memberikan kepuasan mataku untuk menikmati pemandangan langka ini. Pelan aku keluar mengambil rokok, menyalakan dan menghirupnya kembali mendekati Bu Wayan yang masih tergolek menantang.Lima menit berlalu ketika rokok pertamaku habis dan aku matikan di asbak. Aku nyalakan rokok kedua, kembali aku puaskan mataku dengan keindahan tubuh mulus wanita, nafasku memburu, rokok aku isap dalam-dalam semakin cepat kemudian aku matikan. Bu Wayan menggeliat sambil mendesis, tangan Bu Wayan bergerak pelan, yang kiri memegang susunya sebelah kiri dan tangan kanannya memegang vaginanya, dia bergerak sedikit dengan kepala juga tergoyang kemudian posisinya miring dan kedua tangannya mendekap vaginanya, tubuhnya melingkar memperlihatkan lekuk liku pinggangnya dan bokongnya yang mencuat. Aku pikir Bu Wayan lagi mimpi, mimpi bersanggama. Mimpi Bu Wayan ini mau aku jadikan kenyataan

Pelan-pelan aku naik ranjang, kejantananku sudah mencuat keras sesudah 4 jam istirahat, aku berada diatas tubuh mulus Bu Wayan yang aku balikkan dari posisi miring,aku cium bibirnya. dia buka mata, kaget, tapi dia biarkan bibirku melumatnya, malah dia lebih ganas memagut bibirku, memasukkan lidahnya kemulutku yang aku sambut dengan lidahku yang kemudian saling menggelitik tangan kiriku menyangga tubuhku yang kanan mengelus buah dada Bu Wayan, meremas-remasnya, memelintir pentilnya turun mengelus perutnya yang tipis, pinggang yang ramping, kebawah lagi aku renggangkan paha. Bu Wayan, mulutnya terbuka keluar erangan erotis aauucchh. matanya tetap tertutup, birahinya bangit. Nafsuku memuncak, tangan kanan meremas gundukan vagina Bu Wayan, dia mendesis, aku gesek belahan merah ditengahnya dengan jari tengahku, aku usap-usap pelan-pelan, sedikit naik aku sentuh itilnya yang lembut, aku permainkan dengan belaian lembut. Bu Wayan lebih keras mendesis. orgasme. basahlah dia dalam keadaan setengah mimpi.

Aku enggak mau mengoral vagina Bu Wayan, aku enggak mau lubangnya basah karena liurku, aku mau merasakan kekesatan kemaluannya, aku mau menikmati kesesakan tempiknya. Aku arahkan kejantananku yang galak berkepala besar tanpa aku pegang, tangan kananku tetap meremas-remas bokong Bu Wayan, dua kali kejantananku mencoba menusuk lubang sempit kemaluan Bu Wayan enggak bisa. Bu Wayan membantu memegang lembut kejantananku dan di arahkannya persis menempel liang sanggamanya. Sesudah pas, dia lepas tangannya, membiarkan kejantananku menembus tempiknya yang cembung, seakan dia tahu aku memang senang menikmati saat-saat kejantananku membiak bibir merah kelaminnya, menguak lubang sempit vaginanya, menembus gundukan hangat kewanitaannya aku tekan kejantananku, bibir vagina Bu Wayan merekah merah BLeess. kejantananku menghujam dalam.
“Aaucch.”, erang Bu Wayan kaget kejantananku yang kepalanya besar menusuknya, mulutnya terbuka tapi mata tetap terpejam.

Cerita Seks Ngentot,Cerita Sex Menantu,Cerita Sex,Cerita Dewasa Cerita Sex Selingkuh,Kisah Seks Dengan Mertua,Cerita Ngentot,Cerita Sex Terbaru 2018,

Aku turun naikkan kejantananku pelan, aku nikmati kesempitan lubang persetubuhan Bu Wayan, kekesatan liang sanggamanya. Bu Wayan mulai mengangkat bokongnya, menggelinjang mengerang-erang kenikmatan akibat kekerasan dan kehangatan kejantananku yang aku pakukan dengan mantap kedalam kemaluannya yang semakin merah dan terbuka bibirnya. Bokong Bu Wayan naik turun mengikuti gerakan naik turun tusukan kejantananku, ranjang tambah bergetar, desisan nafas semakin kencang erangan semakin keras gundukan Bu Wayan erat menangkap setiap aku coblosan kejantananku, Bu Wayan enggak mau melepaskan pasak kejantananku lepas dari cengkeraman vaginanya, aku genjot lagi dia, keras aku tusuk dan tusuk semakin keras, aku sodokkan kekiri kanan. Bu Wayan makin menggelinjang, pantatnya bergoyang kencang, badannya bergerak kesana kemari menahan nikmat keperkasaan kejantananku.

Aku puasin mengaduk-aduk vagina Bu Wayan sekitar 10 menit, terus aku berbisik ditelinganya”Bu, kamu peras-peras punyaku, ya”.
Bu Wayan tahu maksudku, matanya tetap terpejam tapi mimiknya sangat menggairahkan, mulutnya terbuka mengerang-erang, dia betulkan posisi bokongnya, dan mulailah remasan-remasan vaginanya di batang kejantananku empot empot empot otot-otot vaginanya memeras-meras kejantananku, sementara tanganku kuat-kuat meremas-remas buah dadanya, mulutku melumat-lumat pentilnya.
“Aaaucch aauucchh”, nafsu Bu Wayan memuncak.
Kembali seperti petang tadi tanganku dipepetkan disebelah buah dada kiri kanannya, tangannya kebelakang memegang kuat sandaran ranjang. Aku sedikit menjauh, aku nikmati raut muka penuh nafsu, buah dada yang naik turun menggebu-gebu, bokong yang teratur berputar, semua nikmat dipandang dan yang paling nikmat adalah rasa empot empot vaginanya. remasan otot vagina kesat yang berdenyut-denyut Bu Wayan mulai berkeringat setelah sekitar 15 menit memeras tenaga meremas-remaskan otot vaginanya ke kejantananku, aku mulai kasihan. Aku mau muasin dia lagi.

Aku kecup keningnya, aku bilang”Udah Bu, jangan repot-repot”.
Aku ambil bantal aku taruh dibawah bokong besarnya yang membuat gundukan vagina Bu Wayan semakin membukit, aku buka lebar selangkangannya sementara kejantananku tetap merapat di vaginanya.
“Bu, maaf ya aku mau agak keras menggejot”, kataku terus aku genjotkan kejantananku keras-keras berulang kali, sodokan-sodokan kencang, adukan-adukan pentungan kelaminku yang perkasa.
“Maass”, Bu Wayan menjerit (anaknya mungkin dengar jeritan histeris Bu Wayan).
Jam terbang kejantananku, pengalaman menyetubuhi banyak macam perempuan membuat aku tahu bagaimana membikin Bu Wayan lebih histeris, lebih liar, lebih berkelejotan, lebih mau diperlakukan apa saja aku hujamkan kejantananku lebih ganas lagi saja sekitar 15 menit aku hajar vagina Bu Wayan.
Tanpa ampun kudengar ratapan Bu Wayan”Maas, udah. Mas.”
Aku cabut kejantananku sebentar, aku menunduk dan lihat lubang senggama Bu Wayan bulat merah menganga diameternya sebesar spidol aku senang lihat liang senggamanya yang merah berdenyut-denyut hingga di merasa malu. Aku belum mau ganti posisi, aku pelesakkan lagi kejantananku yang keras mengkilat ceplak ceplak ceplak gundukan vagina Bu Wayan membesar dan memerah kena hempasan kejantananku, Akhirnya pejuku terasa sudah menumpuk dikepala kejantananku, keras sekali kejantananku menegang aku tancapkan kejantananku dalam-dalam dan aku tumpahkan air maniku yang kental hangat menyiram kemaluan Bu Wayan. yang terus meronta-ronta. Bersamaan semprotan hangat cairan kejantananku, Bu Wayan juga orgasme.
“Maas, aku juga keluaar.”, jeritnya sambil pahanya merapat dipantatku dan kaki-kakinya menendang-nendang.

Kami berdua cape, aku turun dari atas tubuh Bu Wayan, aku berbaring tangan kiriku dibawah lehernya dan tangan kananku diatas vaginanya yang jadi mewangi khas campuran cairan kejantananku dan cairan kewanitaan Bu Wayan. Kemudian Bu Wayan bangun, kembali dia membersihkan kejantananku setelah dia bersihkan tubuhnya di kamar mandi.
Dia tanya”Mas mau aku bikinin teh panas?”.
Aku jawab”Enggak usah lah, kan udah nyusu”, jawab aku sambil memegang buah dadanya yang besar.
Gantian kejantananku diremasnya, sambil beranjak mengambil softdrink yang ada di kulkas di kamar juga, memberikannya padaku dan minum bergantian satu kaleng.
Sesudahnya kami berbaring, aku bisikkan di telinganya”Bu, trims ya, kamu cantik ini pintar sekali”, sambil aku tekan vaginanya yang hangat pakai tanganku.
Bu Wayan merangkul aku berbisik”Ah, Mas yang hebat, aku juga puas sekali Mas”.
Aku cium bibirnya aku goda”Besok lagi ya”.
“Heeh”, jawab Bu Wayan.
Aku lega sekali, aku puas sekali. Aku bertindihan seperti tadi dan tertidur.

Suatu hari liburan sekolah Rina datang menginap dirumahku tanpa ditemani Reni dan adiknya dan kebetulan juga rumah sedang sepi. Dan aku tinggal sendirian Putu, Lisa pergi belanja kekota dan menginap disana didampingi pak Daud. Aku lagi BT banget karena suasana dirumah sepi banget

Rina walaupun masih umur 16 thn tapi pertumbuhan badannya sudah sempurna,tinggi 160,kulit putih bersih,rambut sebahu,pinggul yg sdh berbentuk serta buah dadanya yg termasuk ukuran besar membuat setiap mata lelaki terpesona dan tidak mengira kalo masih SMP. Rina sangat dekat dan manja denganku,selalu diceritakannya pengalaman2nya dengan cowok2nya kalo berpacaran,Rina termasuk type gadis pembosan sehingga sering gonta ganti pacar.Akulah yg selalu jadi tamengnya utk minta ijin nonton setiap malam minggu jika dia janjian nonton dg pacarnya.

Malam itu Rina males utk keluar sehingga tdk berdandan,hanya pakai daster yg memberi tanda minta dibelai,sambil aku berbaring nonton siaran tv, Rina masih sibuk dg laptopku berinternet,tak lama kemudian Rina memanggilku,…aku liat neh ada gambar seru sambil menghadapkan layar laptopnya kepadaku dan ternyata Rina membuka situs gambar porno dan terliatlah gambar2 cewek bule yg sedang dientot cowok negro.
Sambil memperhatikan gambar,kupeluk Rina dari belakang,terciumlah olehku wangi shampo yg dipakai Rina.. Idih gede amat ya punya negro,serem.katanya Aku tidak menjawabnya,kueratkan dekapanku sambil kuciumi tengkuk dan kupingnya.ach geli aku mendengar suara Rina mendesah,kuliat bulu kuduknya merinding.Kutingkatkan rangsanganku sambil kusapu habis leher bagian belakangnya tanganku pun mulai membelai kedua bukit kembar Rina yg kenyal dan ohh ternyata Rina tidak pakai BH sehingga langsung terasa olehku putingnya yg sudah mengeras.Lama ku petting bagian sensitif itu dan tiba2 Rina berdiri dari kursinya dan langsung menghadapkan badannya memelukku erat.Badannya yg mungil menambah gairahku saat terasa olehku putingnya yg sudah mengeras ditubuhku.Kulumat bibirnya yg tipis mungil,kumainnkan lidahku didalam mulutnya,sambil tanganku melepaskan tali daster dari pundaknya sehingga daster yg dipakai Rina terlepas kebawah.Malam ini tekad bulat utk bersenggama dengan Rina. Kulanjutkan geriliya tanganku kepinggulnya utk membuka CD.Oleh karena tubuh Rina kecil,maka jilatin lidahku bergeser menyerang kedua buah dadanya yg tidak terlalu besar tapi kenyal degan membungkukkan badanku dengan puting warna merah jambu.Ach aku ssst desah Rina yg membuatku semakin bernafsu,dan berhasil melepas CD yg dipakai Rina jatuh kelantai.Kuliat Rina tidak bereaksi saat menyadari CD nya sudah dilantai.Dan kini Rina sudah bugil dalam pelukanku.Sambil tetap kuisap buah dadanya bergantian,kuangkat tubuhnya ke kasur ,Kulepaskan tubuhnya sebentar dan aku membuka sarungkutermasuk CD ku dan terlihatlah batang kontolku yg sudah tegang.Sambil berbaring posisi menyamping,kutuntun tangannya utk memegang kontolku.Kubiarkan kedua tangannya mengelus elus batang kontolku dan lama kelamaan mengocoknya pelan2.Akupun segera mengisap dan memilin kedua puting susunya bergantian.Semakin liar gerakan Rina,dilepasnya kocokan tangannya dari kontolku,diremasnya kepalaku menahan kenikmatan dari permainan mulutku dikedua putingnya.Dan perlahan tapi pasti kujilat jengkal demi jengkal tubuh Rina yg imut2 menuju seonggok daging yg ditutupi oleh bulu bulu halus,kuteruskan jilatanku keselangkangannya,lama jilatanku diseputaran itu,sambil tanganku tetap mengelus dan memainkan putingnya.Dengan lidahku kujilat bibir vagina Rina yg bergelinjang hebat saat kumainnkan lidahku sampai terasa oleh lidahku clitoris yg sudah mengeras. Ach aku geliiii rintihnya penuh kenikmatan.Terliat olehku lorong vagina Rina yg masih rapat dan wangi dengan cairan yg sudah membanjir dibibir vaginanya.Ach ,aku mauuu keluar terdengar suara Rina memelas membuatku semakin meningkatkan jilatan bahkan kukulum clitorisnya sampai bagian dalam.Dan saat itu tubuh Rina menegang,kedua pahanya pun menegang,sambil mengeluarkan rintihan panjang diremasnya rambutku keras2…ahhh sedaaap yang lengkuhnya dan mengalirlah air hangat dari dalam vaginanya dimulutku pertanda Rina mencapai klimaks.Kubiarkan tubuhnya melemas dengan kedua paha terbuka lebar dan mata terpejam penuh kenikmatan.Kini saatnya aku akan menyetubuhi Rina,dengan berjongkok diantara pahanya,kutempelkan kepala kontolku ke lobang vagina Rina yang masih dipenuhi cairan dan masih perawan.Kugesekkan kepala kontolku yg besar itu kebibir vaginanya sambil pelan2 memberikan rangsangan ke otot vagina itu agar tidak menegang saat kontolku menerobos masuk.Achh jangan dimasukin ya sayang…aku masih perawan, ,rengeknya.Kulepaskan tangannya dari batang kontolku,kupeluk tubuhnya yg mungil sambil kubisikkan,…ndak kumasukin semua kog sayang,hanya kepalanya aja kog bisikku merayu.Kutempelkan batang kontolku sehingga menutupi bibir vaginanya dan dengan tekanan pinggulku kugesek batang kontolku menekan seluruh vagina Rina,ach aku dipeluknya pundakku dan dijepitnya pantatku dengan kedua pahanya.Dengan irama memompa sesekali dengan hentakan2 keras pinggulku membuat Rina terangsang hebat.Terasa olehku licin diseluruh batang kontolku dari cairan vagina Rina yg menerima gesekan batang kontolku.Kulepaskan pelukannya dan dengan posisi menjongkok di kedua pahanya,kutempel pas didepan lubang vagina Rina,kugesek dengan memutar dibibir vagina sambil kutekan perlahan kepala kontolku kedalam lubang vagina yg sempit itu,Ach…sakit aku rintih Rina,kubiarkan kepala kontolku pada posisi itu agar memberikan waktu otot vagina menerima kontolku.Kuisap kembali kedua putingnya,kembali terdengar desahan yg keluar dari mulut Rina,dan sedikit demi sedikit kutekan masuk kepala kontolku dengan sekali sekali menarik keluar dan saat menekan,agak kutambah tekanannya dengan diiringi rintihan suara Rina yg membuat aku semakin bernafsu utk menjebol perawannya.Terasa olehku kalo kepala kontolku sudah berhasil menyeruak sampai bibir bagian dalam vaginanya dan terbentur oleh sesuatu dinding yg kutau itulah selaput perawannya.kudiamkan kepala kontolku sambil menikmati nikmatnya cengkraman otot bibir bagian dalam vagina perawan yg hangat menjepit rapat.Sakit lus,tanyaku.Tidak ada jawaban hanya kuliat bibir bawahnya digigit.Kucoba perlahan kutarik kepala kontolku dan menekannya berirama membuat makin dalam batang kontolku masuk.Kuliat asal kutekan,maka kedua tangan Rina meremas kuat sprei.Dan kali ini kutekan dalam batang kontolku…..sret bles terdengar dari dalam vagina Rina diiringi pekikkan kecil Rina ach aku sakiit sayang,kuliat air mata mengalir dipipinya. Karena keperawanannya jebol.

 

Cerita Seks Ngentot,Cerita Sex Menantu,Cerita Sex,Cerita Dewasa Cerita Sex Selingkuh,Kisah Seks Dengan Mertua,Cerita Ngentot,Cerita Sex Terbaru 2018,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *