Cerita Sex Bokong Semok

Selingkuh Rina Bokong Semok

Diposting pada

Cerita Seks Mesum ini berjudul ” Selingkuh Rina Bokong Semok ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2017.

Cerita Seks – Kali ini gue mau ceritain kisah gue selanjutnya. Percintaan selanjutnya dengan seorang gadis bernama Rina. Tapi sebelumnya gue mau sedikit cerita kalau gue udah mendapatkan tambatan hati dan berencana menikah di tahun ini (horeeeeee…..)nama tambatan hati gue, bernama Lanny, usia lebih tua 1 tahun dari gue, dan bekerja di luar kota, bagaimana pertemuan kita?? Itu semua bakal gue bahas, tapi cerita kali ini bukan tentang Lanny, tapi Rina, Gadis yang berasal dari luar pulau jawa tapi besar di Jakarta.

Cerita Panas Selingkuh Rina Bokong Semok

Cerita Sex Bokong Semok
Usia Rina sama dengan gue, ditahun ini, tahun 2014 ini usia gue, 26 tahun. Tapi kejadian kali ini bukan baru-baru ini, melainkan akhir tahun 2013, kalau tidak salah ingat pertengahan di bulan Desember, di bulan ulang tahun doi.

 

Rina bukanlah sosok asing dikehidupan gue. Gue kenal Rina sejak gue masih SD dan bagai teman dekat, tapi dipisahkan oleh tembok, alias kita tetanggaan. Sejak SD kita main bersama, tapi semua berubah ketika doi(Rina), memasuki usia remaja. Di usianya yang memasuki masa-masa pacaran,kalau tidak salah ingat saat itu doi ga pernah main keluar rumah lagi sejak kelas 2 SMP. Sekalipun bertemu itupun hanya sebatas dibalik pagar halaman rumahnya, itupun hanya terlihat bagian mata keatas.

Setelah bertahun-tahun tidak bermain bersama, gue dengar kabar bahwa Rina melanjutkan pendidikan selanjutnya di Samarinda, ikut orangtuanya kerja dinas keluar kota. Rumahnya disini pun di kontrakan selama 3-4 tahun kedepan.

Menurut gue pribadi, Rina terlalu dimanja oleh orangtuanya, mungkin karena doi adalah anak satu-satunya. Sampai suatu waktu mempertemukan kita berdua. Parasnya jadi begitu cantik, putih, dan doi berbeda dari “yang lainnya”. Maksud gue berbeda dari “yang lainnya” itu bentuk badannya. Bentuk badannya bukan “selera” gue. Bentuk badannya ga terlalu kurus dan jauh dari “bohay”. Tapi menurut gue, masih proporsional dengan tingginya sekitar 158cm dan beratnya 46kg.

Pertemuan yang gue maksud itu, pertemuan di workshop/seminar mengenai leadership yang dibiayai oleh kantor kami masing-masing yang diadakan disalah satu hotel di Jakarta, di bilangan Sudirman. Kami pun jadi lebih banyak ngobrol ketimbang menyimak. Kami juga membahas masa-masa lalu yang lucu sampai alasan doi ga dibolehin main dengan teman-teman dilingkungan rumahnya.

Gue : “kerja dimana Rin?”

Rina : “gue sekarang kerja di Bank ………”

*Sorry gue sensor, intinya doi kerja di salah satu Bank di Jakarta.

Gue : “wah sama dong, gue juga kerja di Bank. Lo dibagian apa?”

Rina : “hmmm…tebak dong”

Gue : “sales executive kah?”

Rina : “hehehe..bukan, gue di marketing kok”

Obrolan kami pun dihentikan sejenak oleh pembawa acara yang sedang menyampaikan kata-kata sambutan untuk para peserta workshop 3 hari ini.

Ga lama setelah kata sambutan tersebut, kami pun melanjutkan obrolan kami, sampai mengungkit masa lalu.

Gue : “lucu ya dulu kita lari-larian, main petak umpet sampai main bulu tangkis, eh taunya lo ga boleh main keluar sama bokap lo,hahahahah”

Rina : “iya…gue sampe nangis-nangis minta main keluar waktu itu, tapi waktu teman-teman pada manggil, bokap malah tambah emosi..serem”

Gue : “saking seremnya, sampe bawa-bawa senapan burung gitu, ngerilah kita,akhirnya kapok mau ngajak main lo lagi”

Kami berduapun tertawa.

Gue : “emang kenapa sih, Rin, sampe lo ga boleh main keluar gitu?”

Rina : “gara-garanya, bokap gw takut kalau main dengan kalian jadi anak ga benar, nilai sekolah jadi jelek, macem-macem deh alasannya waktu itu…”

Gue : “emangnya nilai lo menurun?”

Rina : “ga sih, tapi mungkin karena bokap perhatiin kalau kita main suka lupa waktu, waktu itu aja sampe lupa waktu, jam 11 malem baru pulang”

Gue : “namanya juga anak-anak, Rin. Main emang bikin lupa waktu, apalagi waktu kumpul main kita cuma malem doang”

Rina : “iya siiiihhh…hampir semuanya ya sekolah masuk siang, cuma gue doang yang masuk pagi”

Kami ngobrol sampai lupa waktu, sampai tiba akhirnya tiba waktu Coffee Break, 15 menit. Obrolan kami pun terus berlanjut hingga kami bertukaran nomor handphone dan pin BB.

Gue : “gue ga tau kalau lo udah pulang ke Jakarta, kapan baliknya? Ga bilang-bilang”

Rina : “gimana mau bilang-bilang, gue tau nomor hp lo juga ga, Fay,hahahahaha…”

Gue : “oiya,hahahaha…”

Rina : “lagipula gue udah ga tinggal disitu lagi, Fay…udah pindah gue”

Gue : “lah? Kok gue ga tau kalau rumah lo itu dijual?”

Rina : “bokap gue ngejualnya juga ke sodara gue, adiknya bokap gue yang beli”

Gue : “ooohhh…sekarang lo tinggal dimana?”

Rina : “mau tau aja…weeee….”

Gue : “hmmmm….ya udah deh…”

Belum selesai gue bicara, Rina memotong perkataan gue.

Rina : “gitu aja ngambek,hihihihi…”

Gue : “siapa yang ngambek? Ya kalau ga mau kasih tau, juga ga apa-apa, daripada nanti gue di DOR sama bokap lo”

Rina : “hahahahahaha…rumah gue pindah ke bogor, Fayyy..bokap juga udah ga se-killer dulu kali,hahahaha”

Gue : “ya kirain…”

Lagi-lagi pembicaraan kita terpotong oleh dering HP miliknya. Ternyata dapat telpon dari bokapnya, yang memintanya untuk pulang karena nyokapnya sedang sakit. Rina pun hanya mengikuti workshop setengah hari.

Rina : “Fay, nyokap gue sakit, gue pulang dulu ya..”

Gue : “ooh…oke deh, tapi lo izin dulu sama panitianya..”

Rina : “oiya, besok kita sambung lagi ya..”

Gue : “ooh..oke, hati-hati ya”

Rina : “ya makasih ya…by the way, anterin gue mau ga??”

Gue : “maksud lo, gue ikut lo ke Bogor?”

Rina : “yee…sampai lobby aja, yuk..”

Ga lama kemudian kita pun berpisah di lobby. Gue tetap melanjutkan workshopnya dan Rina pun dalam perjalanan pulang ke rumahnya.
Dan malampun menjelang, HP gue pun berdering. Ternyata Rina menelpon.

Rina : “Fayyyyyy….lagi apa???”

Gue : “Ya Rina, gue lagi nonton, kenapa?”

Rina : “jalan yuk…kangen nih sama lo!”

Gue : “asiiikkk dikangenin sama cewe cantik..”

Rina : “huuu….gombal! Hihihihihi”

Gue : “hahahahaha….mau jalan kemana? Bukannya lo lagi di bogor? Nyokap gimana udah baikan?”

Rina : “udah kok, cuma minta dianter ke dokter doang, coz bokap lagi tugas keluar kota lagi…lagian juga udah ada si mbak yang urus nyokap…dan sebentar lagi gue nyampe nih ke rumah lo, siap-siap ya??”

Gue : “HAH?! Gila lo ya..ntar ketauan sama sodara lo disini, dilaporin bokap lo, di dor deh gue,hahahaha”

Ga lama kemudian terdengar suara klakson dari luar rumah gue.

*BIM*

Bingung mau pakaian apa dan ga tau mau kemana, jadinya gue cuma ganti celana boxer dengan celana jeans, atasannya kaos biasa ditutupi jaket.
Sembari gue jalan keluar pagar rumah, kaca mobil Rina dibukannya.

Rina : “rapih amat mas!? hihihihihi”

Sudahlah gue udah ga tanggepin kata-kata Rina, lagipula gue ambil yang ada digantungan gue aja. Setelah masuk ke mobilnya, kagetnya gue, ternyata si Rina hanya memakai hot pants warna pink, baju pressbody(udah lumrah ya pakaian seperti ini) warna putih polos dan sepatu kets tanpa kaos kaki.

Gue : “besok masih ada workshop kok lo malah ngajak jalan, besok kesiangan loh…apa ga capek lo, Rin, pulang-pergi Jakarta-Bogor?”

Rina : “ngapain balik lagi ke Bogor, palingan gue nginep rumah om gue..”

Gue : “baju lo gimana? Bawa?”

Rina : “bawa dong, tuh ada di bagasi…”

Gue : “rumah om lo dimana mangnya Rin? Tapi lo balikin gue ke rumah gue dulu kan?”

Rina : “hahahahaha…rumah om gue ya disebelah rumah lo itu lah,hahahaha”

Gue : “ooh…ga tau gue, kali aja lo punya om di lain tempat…emangnya kita mau kemana?”

Rina : “cari makan yuk, laper nih…”

Gue : “nyari makan aja nyampe Jakarta, edan lo..”

Kami pun tertawa selama perjalanan kami juga saling tukar cerita. Dari hubungan asmaranya, kerjaan calon suaminya yang bekerja sebagai PNS di daerah Bogor juga sampai cerita bahwa Rina akan menikah akhir tahun 2013, tepatnya tanggal 28 Desember 2013, setelah Rina berulang tahun. Artinya bulan itu adalah saat terakhir Rina berstatus lajang. Di dalam perjalanan kami membicarakan kesiapan acara pernikahan, sampai budget yang dikeluarkan dan disiapkan. Kaget juga ya ternyata pengeluaran untuk pernikahan itu besar sekali. Ck…ck…ck.. Gue hanya bisa geleng-geleng kepala dan sempat berpikir bisa ga ya dengan waktu tersisa ini gue mengumpulkan uang sebanyak itu.

Rina : “Fayyy…! Bengong aja! Udah sampe tau..”

Tanpa sadar gue melamun dan ga sadar kalau mobil udah terparkir.

Rina : “bengongin apa siiiihhh??”

Gue : “lagi mikir uang sebanyak itu bisa ga ya tercapai??”

Rina : “ya ampuuunnn Fadli, Fadli…ya ga harus musti segitu juga kaleee..sesuaiin aja sama kantong lo, gue juga sebenernya ga mau ngeluarin uang sebanyak itu cuma untuk 1 malam doang! Tapi karena bokap yang mau, gue sih tinggal tunjuk aja,hahahahaha…”

Gue : “halaah…gaya lo, iya deh yang puteri satu-satunya,hahahahaha”

Dan kami pun keluar dari mobil dan mulai mencari tempat makan di mall G*ncy. Entah sadar atau ga tangan Rina menggenggam tangan gue.

Rina : “makan disini aja ya?”

Gue : “ya bolehlah…”

Kami pun mulai menceritakan cerita-cerita yang lucu dalam kehidupan kita menurut versi kami masing-masing. Dan….makananpun datang, baru aja mau menyantapnya tapi HP Rina bunyi, mungkin dari bokapnya lagi, pikir gue saat itu. Ternyata dari calon suaminya.

Rina : “bentar ya Fay….”

Sambil meletakan jari telunjuknya di depan mulutnya.

Rina : “sssstttt….jangan ngomong ya Fay….”

Rina pun pergi sedikit menjauh dari gue, entah apa yang dibicarakan mereka hanya yang terdengar tawa Rina dan candaannya. Sambil makan pun gue perhatiin Rina.

Gue : “ternyata cantik banget ya nih cewe..” (Dalam hati gue)

Mata gue pun jelalatan dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya, begitu putih bahkan putih sekali kulitnya sampai-sampai urat-urat di pahanya terlihat. *wow*
Buah dadanya pun tidak terlalu besar dibanding wanita-wanita yang gue “perangi”.
Saking “nyaman” memandangi Rina, sampai lupa kalau makanan dan minuman gue udah habis.

Gue : “lamaaaa juga telpon-annya…” (Sambil gue tunjukin jam tangan gue ke arah Rina, karena udah terlalu malam, terlebih lagi besok masih ada workshop, haduuuhhh..)

Rina : “udah dulu ya sayang, nanti kita sambung lagi, aku mau makan dulu, sampe lupa makanannya udah dateng dari tadi,hahahahaha”

Ga lama kemudian ditutuplah telponnya.

Gue : “ga panas kuping lo, Rin?”

Rina : “hihihihi…keasikan ngobrol nih, yaaa…gue makan sendirian dong?”

Gue : “lo nya yang kelamaan telponnya, gue udah keburu laper, udah dingin kali tuh makanan lo,hahahahaha”

Selesai makan kami pun bergegas ke mobil, karena udah terlalu larut, takut besok kesiangan, apalagi bakalan macet-macetan dulu. Sembari berjalan ke tempat parkiran mobil, gue mampir ke toko yang jual baju formal, sepatu, dan celana.

Rina : “buat apaan beli itu semua?”

Gue : “buat besok, Rin..udah ga mungkin lagi kalau pulang sekarang, paginya pasti telat,makanya gue beli ini semua. Anter gue ke Hotel itu ya, gue kayanya nginep di hotel aja malam ini.”

Rina pun lihat jam tangannya.

Rina : “masih jam 10 kok, sempetlah pulang ke rumah”

Gue : “sempet sih, tapi takut ga sempet bangun pagi, terus macet-macetan lagi, mending di hotel itu, tinggal lanjut jalan kaki atau naik Transj aja”

Rina : “yaaa…terus gue gimana? gue juga males kalau musti macet-macetan..capeekkk…rencananya kan lo aja besok yang bawa mobil,hehehehe”

*gedubraaakkk*

Gue : “ya udah ikut nginep aja, sekalian party-party,gimana??”

Rina : “party apa?”

Gue : “pesta bujang lah…kan lo mau married akhir bulan ini…”

Rina : “hayoo deh…”

Sesampai di mobil kami langsung meluncur ke TKP, di Hotel kami memesan kamar sendiri-sendiri, ga lupa pesan makanan dan minuman, tapi bukan minuman keras, karena bisa-bisa gue bangun siang nanti. Dan, kami pesta tapi hanya berdua saja. Pesta diadakan di kamar Rina, sambil memasang lagu keras-keras, kami pun sambil bercerita dan bercanda. Daaaannn…disinilah kejadian “perang” terjadi.

Awalnya kami main kartu, dan kami memainkan permainan “Truth or Dare”! Yang kalah harus melakukan apapun atau bicara dengan jujur.

Gue : “oke..sekarang lo harus bicara jujur atau kalau lo ga mau bicara jujur, lo harus melakukan apa yang diminta, apapun! Dan ga bisa menolak! Siap ya..”

Permainan dimulai. Gue kalah dan Rina pun mengajukan tawaran.

Rina : “truth or dare?!”

Gue : “truth!!!”

Rina : “oke ya…hmmm…lo udah pernah begituan?”

Gue : “…….”

Rina : “ayo dong jawab, ga boleh bohong ya!! Curang awas lo! Ahahhahahaha”

Kampret, kenapa pertanyaannya kaya gitu ya, pikir gue.

Gue : “begituan gimana sih maksud lo?”

Rina : “iiihh…mau coba-coba mengalihkan pertanyaann ya?? Atau pura-pura ga ngerti nih???hihihihi”

Gue : “bisa ganti pertanyaan ga?”

Rina : “tuhkan! Lo yang ngajaka main beginian tapi malah mau curang! Ga bisa!! Jawab dong,hahahaha”

Gue : “menurut lo gimana?”

Rina : “iishhh…malah balik nanya,jawab dong kalau ga mau jawab lo harus anterin gue Jakarta-Bogor selama sebulan penuh!!”

Bused, ngelunjak nih cewe, dalam hati gue.

Gue : “iya..iya dehhh….udah”

Rina : “…….”

Gue : “udeeeehhhh…yuk lanjut”

Rina : “seriusan?? Berapa kali?”

Gue : “weiiitssss…kok jadi nanya lagi, menangin dulu baru nanya lagi”

Rina tampak antusias dan bersemangat banget setelah mendengar jawaban dari gue. Gue juga semakin “dendam” mau balas dengan pertanyaan-pertanyaan gue. Tapi gue kalah lagi…nasib

Rina : “yeeaaaayyyyy….sekarang jawab pertanyaan gue!”

Gue : “hhhuufffff……sering”

Rina : “sering tuh berapa kali???”

Gue : “eiiitsss, kok nanya lagi??? Ayo lanjutin lagi..”

Rina : “ga bisa, lo musti jawab dengan spesifik dong…”

Gue mulai menghitung berapa kali gue melakukan “peperangan” itu.

Gue : “Acid 2x, Lina 3x, Sarah berapa kali ya?? Seeeddd…udah sering banget sampe lupa gue” (bicara dalam hati gue).

Rina : “……. Banyak ya Fay?”

Dahi Rina mulai mengerut dan semakin penasaran dengan jawaban dari gue.

Gue : “anjriiitttt…berapa ya?? Bodo lah sekenanya aja” (pikir gue dalam hati)

Gue : “27x”

Rina : “……”

Mendengar jawaban gue Rina hanya diam, bengong dan mulai lagi permainannya. Apes banget gue, lagi-lagi kalah..

Rina : “sama siapa aja?”

Gue : “kalo itu gue ga bisa jawab, gue pilih DARE”

Tapi kelihatan Rina bingung dan sempat salah tingkah mau memberi tantangan apa untuk gue.

Gue : “apa tantangan lo Rin?”

Rina : “emmmm…..apa ya??? Jongkok aja deh…lo maen sambil jongkok aja…oke..”

Mendadak muka Rina memerah, entah karena apa. permainan pun kami lanjutkan. Untuk kesekian kalinya gue mencoba menang, akhirnya gue menang….

Gue : “yyyyyeeeeeessssss….!!! Hahahaha…truth or dare?!! Hehehehe”

Rina : “DARE!”

Gue : “hehehehe….okey, sekarang gue mau lo pake rok buat workshop besok, tapi di gulung jadi rok super mini n ga pake CD ya,heheheh”

Masuklah Rina ke kamar mandi, ga lama kemudian doi keluar dengan rok yang benar-benar mini dan mukanya juga jadi memerah.

Gue : “Rin, jangan marah gitu dong…”

Rina : “gue ga marah kok…”

Gue : “muka lo merah gitu kaya udang rebus..”

Rina : “ooh…ga, ga apa-apa”

Kami lanjutkan permainan lagi. Di tengah permainan gue ga bisa nahan “rudal” gue dan spontan gue bicara secara tanpa sadar.

Gue : “lo jadi cantik banget, Rin”

Rina : “hah???hmmm…perasaan lo doang ah..”

Gue : “haaaaaahhhh….kalau aja waktu bisa berputar kembali, mungkin gue kali ya yang bakal melamar lo”

Rina : “iiihh…ngarang aja lo ah”

Permainan pun gue menangkan untuk ke-2x nya.

Gue : “hehehehe….mau truth or dare nih?”

Rina : “Truth deh!”

Gue : “lo udah ngapain aja sama cowo lo?”

Rina : “pacaran aja kaya biasa…”

Gue : “hmmmm….licik deh..”

Rina : “iya..iya….gue cuma sebatas petting..”

Permainan semakin menarik. tapi sayangnya kali ini giliran Rina yang menang.

Gue : “aaahhh…tipis banget hasilnya..”

Rina : “tetep kalah kan?? Hahahaha…sekarang buka baju lo,hahahah…”

Gue : “…..”

Waktu udah menunjukan pukul 23:30-an saat itu, permainan masib dilanjutkan sampai ada salah satu dari kami menyerah dan harus menerima resiko apapun.
Kali ini gue yang menang!

Gue : “hahaha…”

Rina : “puas banget lo ya,kalo lo yang menang?!”

Gue : “iyalah…sekarang, lo petting paling parah ngapain?”

Rina : “petting ya petting, emangnya ngapain lagi??”

Gue : “yaaa…kali aja sama-sama buka baju tapi ga dimasukin”

Rina : “yeeee…..itu sih pikiran lo aja kali, hahahahaha…rahasia”

Karena merasa dicurangi, gue langsung kelitikin doi, dan tanpa sadarpun Rina berada dibawah gue. “Rudal” gue beranjak tegang dan gue mulai menciumi lehernya.

Rina : “hmmmmm……mmmmmm…”

Gue lihat bagaimana seksinya perempuan ini ketika menggigit bibir bawahnya.hmmm…. So sexy
Ciuman gue perlahan naik ke kupingnya, lalu ke pipi dan mendarat ke bibirnya.
Terdengar deru nafas menggebu Rina. Perlahan ciuman gue turun ke lehernya lagi.

Rina : “haaahh…haaaaa….. Fayyyy…gue sebenarnya sayang sama lo..”

Mendengar kata-kata itu gue berhenti mencium dan kami sama-sama saling memandang, gue belai lembut pipi dan rambutnya.

Gue : “gue sayang sama lo sejak SD, tapi karena masih SD, agak aneh kalau gue ngomong begitu”

Gue lanjutkan ciuman gue, gue mau senikmat mungkin yang Rina rasain. Dari leher gue turun ke perut. Perlahan gue ciumin dari arah pusar naik ke dada. Gue singkap kaos hanya sebatas dada, gue jilat puting dadanya sebelah kanan, tangan kiri gue meremas dada sebelah kiri dan tangan kanan gue perlahan turun ke bagian vitalnya, gue tarik rok mininya agar tangan gue bisa memberikan yang terbaik untuk Rina. Erangan kian mengeras, vaginanya pun semakin basah. Setelah gue memainkan dadanya, kini gue mainkan jari gue ke dalam vaginanya yang mulai banjir.

Rina : “aaaaaakkhhhhh…..hmmmmmm…….mmmmm….teruuuus ss saayyaaaangg…aaaaahhhhh”

Gue masukan 1 jari tak terlihat darah perawannya, gue mulai masukan 2 jari gue, tangan Rina menahan tangan gue..

Rina : “hmmmm…..pelaaann…pelaannn”

Gue : “iya sayang…”

Tanpa memikirkan ucapannya, karena gue udah ngebet, gue masukan 2 jari gue di vaginanya yang masih sempit itu.

Rina : “uuuughhhhh…..mmmmmm”

Ciuman gue perlahan turun ke vaginanya, gue lumat vagina basahnya.

Rina : “aaaaarrrghhhhh…..hebat bangeet lo Fayyy…”

Mulut gue udah belepotan cairannya, lidah gue memainkan “kacang”-nya membuat Rina semakin liar, dijambaknya rambut gue dan gue diminta untuk makin liar lagi.

Rina : “hhhaaaaaahhh….aaaahhhh….ayoooo saayaaannnngg lebiiiihhh brutaaalll lagiiii”

Sembari gue menjilati vaginanya, jari tengah gue ga mau ketinggalan “mencolok-colok” vaginannya, sampai Rina mengereng lagi.

Rina : “Gueee maauuu punyaaa anaakk dariii loo, Faayyyy…pleaaseee masuuukinn Faayyyyy…mmmmmm”

Susahnya memasukan penis gue semuanya ke dalam vaginannya. Baru aja sampai kepala penis, Rina udah mengerang dan organsm untuk kesekian kalinya.

Gue : “udah keluar lagi lo Rin??”

Rina : “mmm-hmmm…”

Gue : “sempit banget lubang lo…”

Ga gue sangka, Rina malah mengenggam penis gue, dikeluarkannya dari lubang vaginanya, kini doi mengulumnya, meludahinya dan mengocoknya.

Gue : “uuuuughhhh….mantaaapppo sayaaanngg….kayanya udah pro banget lo”

Rina : “mmmpphhh…mmmmppp…aaaahhhh….”

Dituntunnya penis gue ke lubang vaginannya dan doi memaksakan untuk langsung memasukkan semua batang gue.

Gue : “sabar sayaaanggg…nanti vagina lo malah sakiit…”

Rina : “hhmmmmm…..aaaahhhhh…”

Gue bantu penetrasi Rina dengan mencumbunya , sembari mendorong pelan-pelan kedalam vaginanya. Vaginanya benar-benar lebib sempit daripada punya Lina, padahal masih sebatas petting juga, pikir gue.
Tapi kurang lebih sama susahnya dengan Sarah,bedanya Rina lebih sempit.
Setelah mencoba terus dan Rina semakin liar mencumbu gue, gue manfaatin kesempatan “menggebu-gebu” ini, daaann…”bleeeessssshhhh”..

Rina : “aaaaaarrrghhhhhh….nikmaaatttnyaaaaa…mmmmmpppp hhhh”

Rina malam itu benar-benar liar, seperti nafsu yang udah tertahan sekian lama. Kakinya melengkungkan ke pinggang gue.

Rina : “aaaaaaaaaa…….haaaaahaaa…hh…..nikkmaaaattt t banggeeeettttttt…..entootttttt gueee teruuussss Faaaayyyy”

Gue : “……”

Aneh gue mendengar dan melihat Rina jadi seperti ini, jadi gue sengaja hentikan genjotan gue.

Rina : “hhhaaaaaahhhhh…..haaaaaahhhhh….kenaaapaa bereennttiiii Faaayyy….ayooo dooonnggg..poompaa terusss”

Gue : “oke…”

Gue pompa dengan RPM tinggi, sampai cairan nikmatnya bermuncratan di dada gue dan gue hentiin lagi sebentar, sampai doi relax dulu, pinggulnya masih terlihat kejang-kejang.

Rina : “aaaaaaaaarrkrkkrkkkkkkkhhhhhh…..,hhaaaahhaaaaaa …”

*KRIIIIIIINNNGGGG……KRIIIIINGGGGGGG…*

What the????? Lagi asik main ada telpon. Ternyata bunyi HP Rina, setelah gue liat calon suaminya Rina yang telpon, otomatis gue diam saat itu dan gue kasih HP nya ke Rina, saat gue mau lepasin penis gue, doi malah menahan dengan kakinya. Posisi kami masih belum berubah, Rina masih berbaring di tempat tidur.
Kaget benar-benar kaget Rina malah mengangkat telponnya.

Rina : “halooo sayaaanggg….”

Dan Rina pun berubah posisi kini posisi nungging dan me-loudspeaker HP nya.

CS (Calon suami-nya) : “halooo sayaaaang…udah tidur yaa??”

Rina : “hmmm….iyaa niihh, baru bangun bobo…kamu belum bobo?”

Suara Rina seperti suara orang bangun tidur, melihat posisi nungging begitu gue goda Rina dengan menggesek-gesekan ujung penis gue di vaginanya, sampai akhirnya Rina kesal di genggam penis gue dan memasukannya, Rina menahan suara erangannya saat itu.

CS : “lagi apa kamu sekarang, sayang??”

Penis sudah menancap, gue sengaja pompa,hehehe..

Rina : “aaaahhhh…..”

CS : “eeehhh…Kenapa kamu?”

Suaranya jadi panik. Rina pun mencubit paha gue.hehehe…sensasinya asik brooo.. Sesekali gue sodok doi pas lagi ngobrol, asiknya pas lihat doi menahan erangannya dengan menutup mulutnya sendiri memakai baju dan tangannya.

Rina : “ngggaaakkk…ngggaaakk apa-apaa..cummaaa uraattt kakiii agaaakk ketariikkk ajaaa pas mulett…”

Gue sodok pelan-pelan, gue lihat Rina juga merasa menikmatinya.

CS : “besok aku ada urusan di Jakarta, kita ketemuan yuk…”

Rina : “hmmmmm….he-eeeehhhh….haaaaahaahh”

CS : “kamu masih ngantuk ya?? Kalo masih ngantuk, besok pagi aja aku telpon lagi…”

Rina : “nggaak…nggaakkk apa-apaaaa kok, adaaa apaa sayaaang…”

Saat calon suaminya bicara, gue sengaja pompa Rina lebih cepat. Rina pun menekan tombol MUTE di HP nya supaya tidak terdengar, doi mengerang keras sekali dan doi organsm untuk kesekian kalinya lagi.

CS : “haloo…halooo….Sayang! Kamu tidur ya??”

Rina : “(menekan tombol mute-nya lagi) emmmmm…..iyaa sedikit ketiduran tadi,maaf ya?”

CS : “ya udah kalau begitu, besok pagi aku bangunin deh…maafin aku juga ya udah ganggu bobo kamu”

Rina : “hmmm…emmmm…makasih ya sayang”

Begitu Rina menutupnya, tanpa Ba-Bi-Bu lagi, gue gas poll..*plok-plok-plok-plok-plok*

Rina : “aaaaaaaahhhh……teruuuussss….teruuussss saayaaaanggg…..aaaaahahhh…..hmmmmmmm”

Rina udah terlihat lemas, tapi “rudal” ini belum mau menembak. Jadi gue ga mau maksa Rina untuk terus “bertempur” dengan gue. Gue cabut penis gue dan berencana mengeluarkannya di kamar mandi. Karena gue rasa Rina udah tertidur lemas gue tinggalkan begitu saja, ga taunya Rina menyadari gue ga lagi menyodoknya dari belakang lagi. Doi hampiri gue ke dalam kamar mandi.

Rina : “Fay…ngapain? Kok malah main sendiri, kan gue udah bilang, gue mau punya anak dari lo, Fay…sini..”

Ditariknya penis gue, karena udah kepalang tanggung gue sikat doi dikamar mandi. Gue angkat doi sambil gue pompa sambil berdiri dan menghadapkan ke depan cermin, tampak kami sedang bercinta tapi gue ga bisa lama-lama pompa doi sambil berdiri, pegel bro.

Rina : “aaaaaaahhhhhh……enaaakkkk Faaaayyyy….”

Gue : “pegel gue Rin, di bathtub aja yuk, tapi gantian lo yang pegang kendali..”

Rina : “hahhhh..haaahhhh…ajariinn yaaa…”

Gue : “gampang kok, duduk aja…terus naik-turunin pantatnya..nanti gue ajarin”

Dimasukannya lagi Penis gue ke lubang nikmatnya, doi membelakangi gue, gue tinggal pegang pantat putihnya menaik-turunkan ke penis gue, setelah diajarin sebentar, bisa juga, walau masih sering kelepas.

Rina : “uuuugghhhhh….mmmmmmhhhhh….hhhaaaaaaahhh.. .”

Sepertinya gue terlalu cepat mengajarinnya, Rina memompanya terlalu bersemangat, kalau tidak gue tahan, udah pasti kelabakan gue.

Gue : “pelan-pelaan sayang…”

Kami lanjutkan di closet, Rina kali ini mendominasinya lagi. Antara becek dan sempit,benar-benar nikmat.

Rina : “aaaaahhhhhh….aaaaaahhhhh…..uuugggggghhhhh…. ..mmmmm…..haaaaaaaaaahhhhh”

Gue peluk Rina dari belakang, begitu terasa kedutan dan jepitan nya. Lalu gue selesaikan di tempat tidur. Gue pompa tanpa henti dan akhirnya sampailah dimana masa klimaks itu, gue muncratkan semua di dalam vaginanya.

Rina : “aahhhhhh…ahhhhhh…..”

Gue : “gue udah mau keluar Rin….”

Rina : “aaaaahhhhhhhh….keluaaaarrriinnn di daleeemmmm Faaayyyy”

Benar-benar melelahkan tanpa sadar kami bercinta hampir 2 jam. Saking lelahnya gue udah ga sempet pake baju lagi.
Keesokan paginya gue bangun, Rina masih ada dipelukan gue. Setelah gue lihat jam, ternyata gue udah telat 2 jam.

Gue : “Rina….bangun udah jam 10…”

Rina : “hmmmm…..”

Karena Rina tak kunjung bangun dan gue masih mau main lagi dengannya, gue putuskan untuk bolos dan gue hajar selagi Rina tidur.

Rina : “aaaaaaahhhhhhh…….sakkiiiiittt….sakiiiii itt”

Gue udah ga peduliin, gue terus pompa.

Rina : “aaaaahhhhhhhh……ahhhhhh…..”

*KRIIIIINNGGG*

HP Rina bunyi lagi, gue langsung kasih ke Rina dan di Rina Loudspeaker lagi.

CS : “halo!!! Kamu kemana aja sih, Rinaaa?! Aku udah telpon kamu lebih dari 20x tapi ga diangkat-angkat…kamu workshop ga sih?”

Rina meminta gue untuk berhenti sejenak.

Rina : “iyaaa, sayaaang…aku ketiduran..”

CS : “terus kamu ga workshop sekarang?!”

Rina : “enggak…”

CS : “makanya kalau ada orang telpon tuh bangun, kan aku udah bilang kalau aku mau bangunin kamu, malah ga bangun-bangun!!!”

Pertengkaran sepasang kekasih, gue ga berani main-main lagi, nanti ditendang gue. Karena penis gue udah ga tegang lagi, jadinya gue pergi mandi aja.

Rina : “kan kamu yang bangunin aku malam-malam lagi tidur, jadinya aku ga bisa tidur lagi!!! Malah marah-marah sekarang! Ngeselin banget sih!”

CS : “ya tapii….”

Rina langsung menutup telponnya. Rina langsung menyusul gue ke kamar mandi.

Rina : “iiihhh….lo nih ya, kalo lagi ada kerjaan jangan diselesaiin setengah-setengah!!!”

Gue bingung karena lagi asik keramas tiba-tiba diomelin dari belakang dan di kulum penis gue yang awalnya udah lemas jadi on lagi.
Bercinta di shower asik juga, pikir gue.
Gue balik tubuhnya, gue bungkukin tubuhnya, gue pompa Rina dari belakang.

Rina : “aaaaaahhhh……..aaaaaaaaahhh…..enaaak bangeeettt Faaayyyy….”

Gue : “kalo enak nikmati aja”

Di siang itu gue akhiri semprotan gue di balkon hotel. Seselesainya gue langsung check out dan langsung kembali kerumah, sedangkan Rina harus menemui calon suaminya di P*M.

Bulan berganti bulan gue ga pernah ketemu lagi dengan Rina, di hari pernikahannya pun gue ga diundang. Tapi dibulan Juli gue diberi kabar bahwa kandungannya udah 7 bulan, doi bilang itu anak gue dan doi senang bisa mengandung anak gue.

Cerita Dewasa,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita bokep,Cerita Ngentot,Cerita ABG,Cerita Sedarah,Cerita Tante,Cerita Sex Selingkuh,Cerita Terbaru 2017,Cersex,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Hot,Cerita Ngentot,Cerita Bokep,Cerita Hot,Birahi Seks

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *